Struktur Keluarga Jepang dan Implementasinya dalam Keluarga Indonesia* 1 Rima Devi Jurusan Sastra Jepang FIB, Universitas Andalas rima_devi2004@yahoo.com Keluarga adalah satu institusi penting dalam masyarakat di manapun berada. Dari keluarga individu berasal, tumbuh, dan menjadi dewasa kemudian membentuk keluarga sendiri dan akhirnya meninggal dunia juga dalam keluarga. Jepang yang berada pada belahan timur mengalami perubahan struktur keluarga karena pengaruh politik, ekonomi, dan budaya. Ogawa Yoko seorang novelis Jepang kemudian menangkap perubahan struktur keluarga tersebut dan menawarkan satu struktur keluarga yang disebut dengan interdependent family relationship yang merupakan pengejawantahan dari ideologi yang dianutnya yaitu sekte Konko. Sementara itu pada masyarakat Indonesia sebagaimana masyarakat Jepang yang merupakan negara bagian Timur memiliki beragam suku dan agama. Keberagaman suku dan agama mempengaruhi struktur keluarga yang terbentuk di Indonesia. Bagaimana implementasi struktur keluarga Jepang dalam keluarga Indonesia merupakan bahasan pada tulisan ini. Pendekatan yang digunakan adalah sosiologi sastra dengan metode kajian pustaka. Hipotesis dari tulisan ini adalah faktor pembentuk struktur keluarga di Indonesia adalah latar belakang suku dan agama. Kata kunci: sosiologi sastra, keluarga, struktur keluarga, Ogawa Yoko Pendahuluan Bourdieu (1996) mengatakan keluarga telah terinternalisasi secara kolektif pada diri tiap-tiap individu karena keluarga adalah konstruksi dasar dari kenyataan sosial. Bourdieu berkeyakinan bahwa keluarga adalah produk dari institusionalisasi dengan tujuan membuat setiap anggotanya merasa menjadi bagian dari satu unit yang eksis dan kokoh. Sesuai dengan pernyataan Bourdieu ini maka masyarakat di belahan bumi ini baik pada negara Barat maupun negara Timur memiliki institusi yang disebut dengan keluarga. Keluarga yang terbentuk memiliki struktur yang beragam, yang oleh para ahli seperti Murdock dikelompokkan ke dalam keluarga besar atau extended family dan keluarga batih atau nuclear family. Keluarga batih disebut juga dengan keluarga modern dikarenakan struktur keluarga ini terdiri dari suami istri dan anak-anak yang belum menikah. Keluarga batih dianggap sangat sesuai dengan tuntutan perkembangan teknologi dan industri modern sehingga disebut sebagai keluarga modern. Hal ini mulai terlihat pada keluarga Jepang setelah berakhirnya perang dunia kedua, ketika industri mulai berkembang, tumbuh pula kota-kota baru yang ditempati oleh pasangan suami istri muda. Para suami pergi bekerja ke kantor dan pabrik-pabrik sementara para istri mengurus rumah dan merawat anak-anak mereka. Para pasangan muda yang pindah ke kota industri ini berasal dari keluarga besar. Mereka memisahkan diri dari keluarga asalnya karena alasan pekerjaan dan tempat tinggal. (Goode, 2007). Berkaitan dengan keluarga batih yang sesuai dengan tuntutan industri modern maka keluarga besar disebut dengan keluarga tradisional. Keluarga tradisional memiliki struktur keluarga yang anggotanya terdiri dari beberapa generasi dan tinggal bersama dalam satu rumah. Anggota keluarga tradisional ini berjumlah sangat banyak sehingga disebut juga dengan keluarga besar. Tiap-tiap kelompok masyarakat yang menganut sistem keluarga besar memiliki aturan dan tata cara tersendiri dalam mengatur anggota dan mengelola keluarganya. Aturan yang diterapkan biasanya berdasarkan ideologi yang dianut ataupun berdasarkan adat istiadat yang berlaku sehingga bisa dipahami mengapa bentuk keluarga besar ini disebut juga dengan keluarga tradisional yang melaksanakan tradisi mereka turun-temurun. Negara yang umumnya menjalankan sistem kekeluargaan tradisional ini adalah negara Timur seperti Indonesia, Jepang, China, India, dan lain sebagainya. Namun seiring dengan perkembangan dunia industri, sistem kekeluargaan tradisional mengalami perubahan dan penyesuaian menurut tuntutan zamannya. Perubahan sistem kekeluargaan tradisional menjadi keluarga modern terlihat cukup bermakna adalah pada masyarakat Jepang. 1 Dipresentasikan pada Seminar Internasional Sastra Bandung 2015 pada tanggal 7‐8 Oktober 2015 di Hotel Panghegar, Bandung, dan dimuat pada buku Sastra Kita: Kini, Dulu, dan Nanti, disunting Resti Nurfaidah, M.Hum., dkk. Cetakan Unpad Press, Jatinangor, 2015.