Jurnal At-Tafkir Vol. VII No. 2 Desember 2014 1 AGAMA YAHUDI DALAM PERGULATAN MODERNITAS Strategi Bertahan di Tengah Perubahan Dunia Syafieh, M.Fi. I. * This article discusses the Jewish response to Modernity. Appearance of modernization in Europe in the eighteenth century gave rise to diverse attitudes to Jews. At least there are three types of reaction to modernism are the Jews Reformers are found only sacred "written Torah" (Old Testament) are sacred. These reformers Jews represented by Moses Mendelssohn (1729-1786) and Israel Jacobson (1708-1828). Ultra-orthodox Jews who emphasize adherence to Jewish law strictly. Figures in the Ultra- Orthodox Jewish stream is Israel ben Eliezer (1700-1760), Rabbi Moses Sofer of Pressburg (1963-1839), and Rabbi Hayyim Volozhiner. Neo-orthodox Jews who received all religious concepts are traditionalists and seeks to understand the contemporary understanding. Prominent in this movement is Leopold Zunz (1794-1886), Zachariah Frankel (1801-1875), and Samuel Raphael Hirsch (1808-1888). Keywords: Jews, Modernity, Reformed, Orthodox A. Pendahuluan Modernisme dalam agama baru dikenal pada abad ke-18 dan ke-19 di Eropa. Dalam Encyclopedia Americana (1972), modernisasi agama diartikan pemikiran agama yang berangkat dari keyakinan bahwa kemajuan-kemajuan sains dan kebudayaan modern menuntut adanya reinterpretasi terhadap ajaran agama klasik sesuai pemikiran filsafat. Dengan demikian, doktrin modernisasi adalah, teks wahyu dibawah sains, teks agama harus ditafsir ulang agar sesuai dengan zaman. Ini sama saja dengan liberalisasi. (Encyclopedia Americana, vol. 19, 1972) Istilah ini dinisbatkan kepada gerakan protes Gereja Katolik Roma terhadap otoritas Gereja konserfatif. Gerakan yang berupa protes ini juga dipakai untuk gerakan liberalisme dalam Kristen Protestan. Sebelumnya, gerakan liberalisasi agama lebih dahulu dipelopori oleh Yahudi, hanya saja Yahudi tidak memakai istilah Penulis adalah dosen Mu’amalah di STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa, Email: syaf_74@yahoo.com.