Hubungan Kekerabatan Beberapa Spesies Tumbuhan Paku Familia Polypodiaceae dari Karakter Morfologi Sporofit dan Gametofit Jurnal Ilmiah PROGRESSIF, Vol.7 No.19, April 2010 9 HUBUNGAN KEKERABATAN BEBERAPA SPESIES TUMBUHAN PAKU FAMILIA POLYPODIACEAE DITINJAU DARI KARAKTER MORFOLOGI SPOROFIT DAN GAMETOFIT Nunuk Nurchayati * ABSTRAK Tumbuhan paku familia Polypodiaceae memiliki jalur keturunan yang berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan kekerabatan beberapa spesies tumbuhan paku familia Polypodiaceae berdasarkan karakter morfologi sporofit dan gametofit. Spora dari 5 spesies yang diteliti ditumbuhkan dalam medium batu bata. Pengamatan dilakukan terhadap morfologi sporofit rimpang, batang, daun, gametofit spora dan protalium. Hasil pengamatan diperoleh adanya 45 ciri. Analisis hubungan kekerabatan dilakukan dengan pendekatan fenetik yang mengaplikasikan program CLAD 97. Hasil analisis diperoleh lima spesies yang diamati terbagi dua kelompok besar yaitu kelompok I yang terdiri dari Adiantum caudatum dan Nephrolepis falcate dan kelompok II yang terdiri dari Asplenium nidus, Drypteris concolor dan Pytirogramma calomelanos. Kelompok I memiliki kesamaan pada habitus tereterial, penampakan rimpang, susunan daun, ornament spora dan bentuk protalium. Kelompok II memiliki kesamaan berdasarkan tipe daun . Pada kelompok I diketahui Adiantum caudatum berkerabat dengan Nephrolepis falcate pada koefisien kesamaan 66,7%. Dan pada kelompok II Dryopteris concolor berkerabat dengan Pityrogramma calomelanos. Pada koefisien kesamaan 60 %. Asplenium nidus berkerabat dengan Dryopteris concolor dan Pityrogramma calomelanos pada koefisien kesamaan 51,1% dan ketiganya berkerabat dengan spesies pada kelompok I pada koefisien kesamaan 50,1%. Kata Kunci : karakter, kekerabatan, fenogram, sporofit, gametofit PENDAHULUAN Latar Belakang Tumbuhan yang ada di alam ini mempunyai jumlah yang beraneka- ragam sehingga menimbulkan kesadaran manusia untuk menyeder- hanakan obyek studi melalui klasifikasi, identifikasi dan pemberian nama yang tepat untuk setiap kelompok tumbuhan dengan memanfaatkan karakter yang terdapat pada setiap tumbuhan, dan menggolongkannya ke dalam kelompok-kelompok tertentu. Kesadaran manusia untuk menyeder- hanakan obyek studi tersebut kemudian melahirkan cabang ilmu hayat yang sekarang disebut taksonomi atau sistematika (Tjitrosoepomo, 1993). Taksonomi tumbuhan selanjutnya tidak hanya melakukan klasifikasi dan pemberian nama saja, tetapi lebih mengarah pada pengelompokan yang menyatakan hubungan kekerabatan pada dunia tumbuhan. Hubungan