ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN KATEGORI ENERGI DAN ATMOSFER UNIVERSITAS SRIWIJAYA DOSEN PEMBIMBING : SETYO NUGROHO M., Ir., MCRP. PENDAHULUAN Krisis sumber energi tak terbaharui mendorong arsitek untuk semakin peduli akan energi dengan cara beralih ke sumber energi terbaharui dalam merancang bangunan yang sadar akan pemakaian energi. Masyarakat Indonesia tergolong konsumen yang paling boros dalam penggunaan energi listrik,bangunan komersial di kota besar adalah yang paling banyak dalam penggunaan energi listrik. Sejumlah 90% energi listriknya adalah untuk mesin AC (mesin pendingin ruang dan penerangan. Kondisi lingkungan tropis Indonesia yang kaya akan intensitas radiasi matahari apabila dak ditangkal dengan benar dapat mengakibatkan laju peningkatan suhu udara, baik di dalam maupun di luar ruangan,Perwujudan dari desain arsitektur yang sadar energi dan berwawasan lingkungan merupakan bagian dari arsitektur berkelanjutan (sustainable architecture). Disini arsitek mempunyai peran yang amat sangat penng dalam penghematan energi. Disain hemat energi diarkan sebagai perancangan bangunan untuk meminimalkan penggunaan energi tanpa membatasi fungsi bangunan maupun kenyamanan atau produkvitas penghuninya. Untuk mencapai tujuan itu, karya desain arsitektur yang sadar akan hemat energi harus mulai dirins dari sekarang. Kata Kunci nya adalah Arsitektur yang Sadar Energi, Berkelanjutan Menurut Prasasto Satwiko (2005) energi adalah kemampuan untuk mengerjakan sesuatu. Energi dapat ditemukan dalam beragam bentuk, seper energi kimia, energi listrik, energi cahaya, energi panas, energi mekanik, dan energi nuklir. Hukum kekekalan energi menyebutkan bahwa energi dak dapat dimusnahkan dan diciptakan. Dia hanya dapat berubah-ubah bentuk. Listrik adalah energi yang saat ini kita anggap sebagai energi yang paling luwes. Listrik disebut sebagai sumber energi sekunder. Kita memperoleh energi listrik dengan mengkonversi sumber energi lain (batubara, air, minyak, nuklir, dll) menjadi listrik. Desain hemat energi diarkan sebagai perancangan bangunan untuk meminimalkan penggunaan energi tanpa membatasi fungsi bangunan maupun kenyamanan atau produkvitas penghuninya. “Designing building to minimize the usage of energy without constraining the building funcon nor the comfort of producvity of occupants ..” (Hawkes Dean, 2002) , Arsitektur Hemat energi menurut, Tri Harso Karyono (2007), adalah: Kondisi dimana energi dikonsumsi secara hemat (minimal), tanpa harus mengorbankan kenyamanan fisik manusia. Perancangan sebuah bangunan yang hemat energi merupakan salah satu aspek dalam mewujudkan arsitektur berkelanjutan, menurut Ken Yeang (2006) “Ecological design, is bioclimac design, design with the climate of the locality, and low energy design .” yang menekankan perancangan pasif yang berbasis pada integrasi kondisi ekologi setempat, iklim makro dan mikro, kondisi tapak, program bangunan, konsep design dan sistem yang tanggap pada iklim, dan penggunan energi yang rendah.Perancangan pasif menekankan pada kondisi iklim setempat, dengan mempermbangkan: Konfigurasi bentuk bangunan dan perencanaan tapak, Orientasi bentuk bangunan (fasad utama dan bukaan), Desain fasade (termasuk jendela, lokasi, ukuran dan detail), Perangkat penahan radiasi matahari (misalkan sunshading pada fasad dan jendela), Perangkat pasif siang hari, Warna dan bentuk selubung bangunan, Tanaman verkal, serta Angin dan venlasi alami.