1 MERANCANG PELATIHAN YANG EFEKTIF ---------------------------- Zakarija Achmat PENDAHULUAN Nadler dan Wiggs (dalam Robinson & Robinson, 1989) mendefinisikan pelatihan (training) sebagai teknik-teknik yang memusatkan pada belajar tentang ketrampilan-ketrampilan, pengetahuan dan sikap-sikap yang dibutuhkan untuk memulai suatu pekerjaan atau tugas-tugas atau untuk meningkatkan kemampuan dalam melakukan suatu pekerjaan atau tugas. Hal senada juga dikemukakan oleh Clark (1991) bahwa pelatihan adalah suatu upaya untuk melakukan perubahan dalam hal pengetahuan, ketrampilan- ketrampilan dan sikap. Pelatihan merupakan suatu bentuk pembelajaran yang bermuara pada perubahan, sehingga peran seorang pelatih adalah bertanggung jawab terhadap terjadinya perubahan sikap dan perilaku orang-orang yang dilatih. Karena sifat manusia dan prosesnya yang dinamis, maka seorang pelatih harus terlibat di dalamnya sebagai pribadi, sebagai orang, bukan teknisi yang bersifat mekanistis (Clark, 1991). Sebagai sebuah proses, pelatihan memiliki peran yang hampir sama dengan terapi, tetapi tidak berarti bahwa seorang pelatih harus juga menjadi terapis, karena tetap ada perbedaan antara keduanya. Kesamaan antara pelatihan dan terapi antara lain; pertama, keduanya merupakan suatu upaya untuk membantu individu untuk belajar dan merubah tingkat ketrampilan, pengetahuan dan sikapnya. Kedua, pelatihan dan terapi berhubungan dengan pemecahan masalah. Ketiga, keduanya berupaya mengembangkan kemampuan individu dalam mengelola ketidakpastian dan siatuasi-situasi baru. Sementara, ada perbedaan penting antara keduanya, yaitu: (a) terapi berurusan dengan pengalaman masa lalu yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk mengahadapi masa kini; (b) dalam seting terapi, terapis berusaha membawa pasien untuk bisa melalui suatu pengalaman kritis yang tidak menyenangkan dan ia membutuhkan bantuan yang tepat; (c) masalah yang