Kelompok Kong Hu-Cu Anggota Kelompok : 1. Claudia Veronica (1203545) 2. Debora Septika (1400615) 3. Oki Saputra (1404339) 4. Ricky Nurjaman (1403457) 5. Syarah Apriliyana (1401199) KONG HU-CU DIMATA BUDDHA Mencari literasi mengenai budaya aliran Confucius ini memang bukan hal yang mudah. Kelompok kami bahkan kesulitan menemukan rumah ibadat dari kepercayaan Kong Hu-Cu di Bandung. Kong Hu-Cu seorang filosof besar Cina merupakan orang pertama pengembang sistem memadukan alam pikiran dan kepercayaan orang Cina yang paling mendasar. Dikutip dari Biografiku(dot)com, filosofinya menyangkut moralitas orang perorang dan konsepsi suatu pemerintahan tentang cara-cara melayani rakyat dan memerintahnya lewat tingkah laku teladan- telah menyerap jadi darah daging kehidupan dan kebudayaan orang Cina selama lebih dari dua ribu tahun. Lebih dari itu, juga berpengaruh terhadap sebahagian penduduk dunia lain. Kong Hu-Cu kerap dianggap selaku pendiri sebuah agama; anggapan ini tentu saja meleset. Dia jarang sekali mengkaitkan ajarannya dengan ketuhanan, menolak perbincangan alam akhirat, dan mengelak tegas setiap omongan yang berhubungan dengan soal- soal metafisika. Dia tak lebih dan tak kurang seorang filosof sekuler, cuma berurusan dengan masalah-masalah moral politik dan pribadi serta tingkah laku akhlak. Ada dua nilai dari empat nilai penting yang diambil dalam proses penelitian kami terkait dengan agama Kong Hu Cu, kata Kong Hu-Cu, yaitu “Yen” dan “Li:” “Yen” sering diterjemahkan dengan kata “Cinta,” tapi sebetulnya lebih kena diartikan “Keramah-tamahan dalam hubungan dengan seseorang.” “Li” dilukiskan sebagai gabungan antara tingkah laku, ibadah, adat kebiasaan, tatakrama dan sopan santun. Dalam perkembangannya, kedatangan orang Cina banyak membawa tradisi-tradisi yang dianggap penting dan tetap mempertahankan nilai-nilai 1