EKSPOR SAMPAH ELEKTRONIK (E-WASTE) INGGRIS KE NIGERIA: KEUNTUNGAN EKONOMI DIBAILIK TRANSFER POLUSI Oleh: Tsabita Shabrina A (070912057) Abstrak. Permasalahan terkait perdagangan sampah elektronik (e-waste) antarnegara telah menjadi perhatian dunia. E-Waste yang merupakan sampah elektronik yang sudah tidak terpakai ternyata memiliki keuntungan yang menggiurkan sekaligus berdampak negatif apabila tidak ditangani sesuai standard. Diekspornya e-waste dari negara industri maju ke negara berkembang mengindikasikan terjadinya unequal exchange terhadap lingkungan dan kesehatan manusia di negara berkembang akibat proses manajemen e-waste yang tidak memadai. Inggris tercatat sebagai negara dengan ekspor e-waste terbesar ke Nigeria yang umumnya misslabelled atau dikirim dengan dalih bantuan kemanusiaan. Hal tersebut tentunya tidak sejalan dengan tingginya komitmen Uni Eropa dan Inggris terkait kampanye- kampanye keberlangsungan lingkungan serta ditandatanganinya Konvensi Basel yang mewajibkan tiap negara anggota untuk memperlakukan komoditas sampah elektronik dengan cara yang ramah lingkungan serta memastikan agar negara berkembang tidak djadikan sasaran pembuangan sampah elektronik. Menggunakan teori sistem negara, race to the bottom dan pollution haven, penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor keuntungan ekonomi (dalam proses ekspor dan upaya menghindari biaya recycling) dan lemahnya kapasitas Nigeria sebagai negara penerima e-waste (ekonomi, politik, keamanan dan kesejahteraan negara) merupakan alasan yang mendasari Inggris untuk tetap mengekspor e-waste ke Nigeria ditengah tingginya komitmen dan ketatnya environmental law di Inggris dalam hal environmental sustainability. Kata Kunci: perdagangan e-waste, Inggris, Nigeria, keuntungan ekonomi, unequal exchange Pendahuluan Kemajuan teknologi informasi dan transportasi memungkinkan manusia dan barang menjadi semakin cepat berpindah. Kegiatan perdagangan yang semula terbatas antara penjual dan pembeli dalam lingkup kecil perlahan berkembang menjadi kegiatan perdagangan lintas negara akan berbagai komoditas. Sejalan dengan perkembangan teknologi tersebut, kebutuhan masyarakat modern akan perangkat teknologi pun meningkat untuk memudahkan segala aktifitasnya. Permintaan yang tinggi serta keinginan untuk selalu memperbarui alat elektronik pada akhirnya berujung pada banyaknya sampah bekas alat elektronik yang tidak terpakai, yang dalam penelitian ini disebut sebagai e-waste (electronic waste) atau sampah elektronik. Sementara itu, aktivitas perdagangan dan ekonomi seringkali memiliki dampak yang tidak diinginkan dalam hal keberlangsungan sosial dan lingkungan. Permasalahan terkait aliran perdagangan e-waste (electronic waste) pun menjadi salah satu permasalahan global yang perlu mendapat perhatian. Hal tersebut dikarenakan tingginya kasus aliran e-waste dari negara industri maju ke negara-negara berkembang beserta polusi yang menyertainya. 1