SIX SIGMA Adalah cara berbisnis yang memiliki berbagai wajah berikut ini: Satu filsafat, sebuah cara bekerja yang terukur, sebuah strategi dan suatu tujuan. DASAR FILSAFATI SIX SIGMA six sigma adalah suatu landasan filsafati kerja untuk mencapai suatu kinerja bertaraf internasional dengan fokus pada kebutuhan-kebutuhan pelanggan dan menghilangkan berbagai kecacatan hasil. Cara ini menuntut pemahaman penuh terhadap kebutuhan semua pelanggan dan memperbaiki kapasitas kita untuk memuaskan kebutuhan – kebutuhan mereka menurut suatu kualitas tertentu. Institusi yang telah mengadopsi dan dijiwai filsafat six sigma dapat mengungguli institusi-institusi lain. Contoh di dunia pertambangan adalah PT. FREEPORT yang sudah mengklaim sebagai perusahaan pertambangan dengan biaya operasional yang rendah karena berhasil meminimalisasi pemborosan di lini produksinya. METRIC Sigma adalah cara mengukur secara statistik yang mencerminkan seberapa baik kinerja suatu proses. Bila jumlah kecacatan satuan hasil atau prosesnya menurun, hasil dan nilai sigma menurun. Menurut definisinya , six sigma adalah suatu pengukuran secara statistic yang berarti kurang dari empat kecacatan per satu juta kesempatan. Cara lama memandang kwalitas 99% baik Cara memandang kwalitas six sigma 99,99% baik 20.000 kiriman pos hilang tiap jam 7 kiriman pos hilang tiap hari 5000 kesalahan operasi terjadi perminggu 1,7 kesalahan operasi terjadi perminggu Air minum tak sehat tersedia tiap 15 menit/hari Sekali Air minum tak sehat tersedia setiap 7 hari 60 liter/jam untuk dozer D65P 30 liter/jam untuk dozer D65P STRATEGI Strategi six sigma memiliki 2 metoda analisis ketat yang menggunakan alat statistik untuk merancang hasil dan proses (DFSS=design for six sigma) atau untuk memperbaiki hasil dan proses yang sudah ada (DMAIC). Masing – masing metoda menuntut kita mengoptimalkan hasil dari proses dengan memusatkan upaya kita pada masukan (inputs). Dalam produksi pertambangan ada 4 hal yang biasanya bermasalah : metoda penambangan yang tidak tepat, maintenance alat berat yang kurang bagus, attitude dari operator alat berat dan control terhadap bahan bakar yang lemah (padahal bahan bakar 50% biaya operasional). Untuk mencapai tingkat kwalitas mutu six sigma , kita akhirnya harus mengetahui masukan-masukan dan sebab-sebabnya bukan sekedar melihat keluaran dan tanda-tandanya.(simtomnya).