Potret “Suram” Kematian Penghayat Sapta Darma 1 Oleh: Nazar Nurdin 2 ABSTRAK Persoalan penolakan pemakaman penghayat kepercayaan, terutama jasad Sapta Darma masih kerap terjadi di berbagai wilayah di Jawa Tengah. Penolakan pemakan terjadi karena jasadnya ditolak dimakamkan oleh warga di tempat pemakaman umum. Banyak warga yang beragama islam, dan terkadang aktor pemerintah desa menganggap makam desa adalah milik makam muslim, sehingga orang yang tidak beragama dinilai tidak berhak untuk dimakamkan. Persoalan yang ini mengindikasikan negara tidak selalu hadir dalam penyediakan tempat berteduh bagi warga negaranya. Tentu, jika sudah ada pengertian antara pemerintah, warga dan penghayat, masalah pemakaman tidak ada saling menolak. Negara juga mesti bersikap sebagai pengayom bersama, menjamin lahan pemakaman bagi semua warga negaranya. Makam-makam yang sudah ada saat ini banyak diklaim menjadi makam orang islam. Negara semestinya bisa berperan adil dalam menjamin kehidupan maupun kematian bagi warga negaranya. Penulisan ini menggunakan pola snow ball. Beberapa narasumber telah dilakukan wawancara secara mendalam, hingga dari kehidupan mereka hingga ditemukan soal pemakaman. Kajian ini tentu bisa menambah khazanah keislaman Indonesia, bahwa soal pemakaman menjadi instrumen penting bahwa Islam hadir bukan untuk menolak segala tuduhan. Key Word: Negara, Penghayat Kepercayaan, Kematian, dan Islam I. PENDAHULUAN Hidup dan mati adalah kehendak takdir Tuhan. Kematian bagi seorang tidak bisa ditentukan kapan dan di mana dia meninggal. Untuk itulah, tempat pekuburan atau makam menjadi penting untuk menampung seorang yang akan meninggal dunia. Di beberapa tempat di Jawa Tengah, persoalan menguburkan jasad manusia masih banyak penolakan. Berdasarkan penelitian Lembaga Studi Sosial dan Agama Semarang tahun 2014 khusus pada Penghayat Kepercayaan, ada banyak kasus yang 1 Tulisan ini dibuat untuk Annual International Conference on Islamic Studies di STAIN Samarinda, 21-24 November 2014 dengan tema utama “Merespon Tantangan Masyarakat Multikultural: Kontribusi Kajian Islam Indonesia (Responding the Chalenges of Multicultural Societies: The Contribution of Indonesian Islamic Studies).” 2 Mahasiswa Pasca Sarjana IAIN Walisongo Semarang, Jurnalis dan Peneliti di Lembaga Studi Sosial dan Agama (eLSA) Semarang, Jawa Tengah.