Jurnal Kedokteran Hewan Ening Wiedosari dan Sutiastuti Wahyuwardani ISSN : 1978-225X 9 STUDI KASUS PENYAKIT AYAM PEDAGING DI KABUPATEN SUKABUMI DAN BOGOR A Case Study on the Diseases of Broiler Chicken in Sukabumi and Bogor Districts Ening Wiedosari 1 dan Sutiastuti Wahyuwardani 1 1 Laboratorium Patologi Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor E-mail: eningwied@yahoo.com ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengetahui kejadian penyakit secara patologis pada ayam pedaging di Kabupaten Sukabumi dan Bogor pada bulan Februari (musim penghujan) dan Juni (musim kemarau) tahun 2012. Dari sejumlah peternakan yang dikunjungi total diperoleh 40 kasus penyakit. Diagnosis penyakit ditetapkan berdasarkan sejarah penyakit yang terjadi di peternakan, umur ayam yang sakit, gejala klinis, perubahan patologi anatomis, dan histopatologis. Berbagai faktor seperti kondisi iklim, tata laksana peternakan, pengobatan, dan sejarah vaksinasi digunakan sebagai data penunjang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit yang teridentifikasi adalah colibacillosis (22,2%), asites (12,5%), gumboro (12,5%), Newcastle disease (ND) (10%), Salmonella pullorum (10%), dan necrotic enteritis (7,5%). Penyakit terutama terjadi pada ayam umur 11-21 hari (57,5%) dan terjadi pada musim penghujan (60%). ____________________________________________________________________________________________________________________ Kata kunci: ayam pedaging, penyakit, patologis ABSTRACT A pathological investigation on the occurrence of broiler chicken diseases in Sukabumi and Bogor Districts was conducted during February (rainy season) and June (dry season) 2012. A total of 40 pathological cases were found from different poultry farms. Diagnosis of different disease conditions was made on the basis on the history of the flock diseases, age of affected birds, clinical signs, gross, and microscopic lesions. The various factors like climatic condition, management practices, drug therapies, and immunization status from each farm were used as a supporting data. In the present investigation, the diagnosed diseases included colibacillosis (22.2%), ascites (12.5%), infectious bursal diseases (IBD) (12.5%), Newcastle disease (ND) (10%), Salmonella pullorum (10%), and Necrotic enteritis (7.5%). In general, the highest numbers of cases were recorded in the age group of 11-21 days (57.5%) and the diseases occurred mostly in rainy season (60%). ____________________________________________________________________________________________________________________ Key words: broiler chicken, diseases, pathology PENDAHULUAN Peternakan ayam pedaging mempunyai prospek yang sangat baik untuk dikembangkan, baik dalam skala peternakan besar maupun dalam skala peternakan kecil, atau peternakan rakyat. Hal tersebut diperkuat dengan perkembangan populasi ayam pedaging khususnya di Provinsi Jawa Barat yang menjadi sentra produksi dengan populasi 497.814.132 atau sebesar 44,64% dari populasi nasional (Direktorat Jenderal Peternakan, 2011). Beberapa alasan peternak untuk terus menjalankan usaha ini antara lain, jumlah permintaan daging ayam yang terus meningkat, akses mendapatkan input produksi yang mudah dengan skala kecil maupun besar, dan perputaran modal yang cepat. Permasalahan utama yang merupakan tantangan terberat di peternakan ayam adalah munculnya penyakit, sehingga pengelolaannya perlu dilakukan secara efisien dan profesional. Penyakit yang menyerang ayam banyak ragam dan seringkali gejalanya hampir sama. Oleh karena itu, peternak membutuhkan pengalaman tentang penyebab penyakit secara umum sehingga dapat membedakan penampilan ayam yang sakit dengan ayam sehat. Penyebab penyakit pada ayam adalah virus, bakteri, jamur, protozoa, cacing, dan kutu. Tetapi kekurangan mineral dan vitamin juga dapat menyebabkan penyakit. Wabah penyakit menular seperti penyakit flu burung pada tahun 2003 adalah risiko terbesar yang harus dihadapi peternak di Indonesia. Kerugian ekonomi ditaksir mencapai Rp 7,7 triliun, meliputi kematian unggas sekitar 7,4 juta ekor yang terdiri atas ayam ras, ayam buras, burung puyuh, itik, merpati, dan unggas lainnya. Di samping itu, penyakit menimbulkan dampak buruk lainnya seperti pengurangan kesempatan kerja, gangguan pada industri perunggasan dan industri pakan (Tarmudji, 2005). Perubahan iklim yang diprediksi sebagai efek pemanasan global menyebabkan pola musim hujan dan kemarau berubah tidak menentu. Kenaikan suhu lingkungan ini akan membawa berbagai dampak yang spesifik, termasuk ke dunia peternakan, antara lain meningkatnya stres panas (heat stress) pada ayam (Quinteiro-Filho et al., 2010). Pada ayam pedaging, saat suhu kandang mencapai 40,6C selama 3 jam dapat menyebabkan kematian (Al-Ghamdi, 2008). Kondisi ini diperparah dengan adanya fluktuasi suhu yang relatif tinggi antara siang (tengah hari) dan malam (dini hari). Akibatnya stamina tubuh ayam menurun sehingga mudah terinfeksi penyakit yang menyebabkan produktivitas ayam menurun. Hal pertama yang harus dilakukan dalam penanganan kasus penyakit ayam adalah analisis penyebab. Pendekatan melalui diagnosis patologis merupakan suatu tindakan yang umum dilakukan dalam manajemen kesehatan hewan. Beberapa penyakit pada ayam mempunyai gejala klinis yang hampir sama, tetapi dengan pemeriksaan bedah bangkai yang ditunjang dengan informasi mengenai sejarah penyakit, sifat-sifat agen penyebab, umur ayam, dan karakteristik