Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB Jurnal Perencanan Wilayah dan Kota 1 SAPPK No.1 | 1 PROSES PENGEMBANGAN LAHAN DAN KETERKAITAN ANTAR STAKEHOLDER DALAM PENGEMBANGAN LAHAN KAWASAN INDUSTRI KENDAL, JAWA TENGAH Muhammad Ihsan (1) , Delik Hudalah (2) (1) Perencanaan Wilayah dan Kota, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK), ITB. (2) Kelompok Keahlian Perencanaan Wilayah dan Perdesaan, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK), ITB. Abstrak Makin pesatnya kebutuhan akan lahan perkotaan dan tingginya arus urbanisasi yang tidak terbendung berujung pada kejenuhan struktur kota yang memicu bangkitnya arus suburbanisasi. Arus suburbanisasi ini perlu ditunjang dengan pengembangan lahan yang mampu membangkitkan pusat- pusat pertumbuhan baru sekaligus menyerap penduduk di wilayah suburban. Namun penelitian yang dilakukan sebelumnya menyebutkan bahwa peran pemerintah daerah dalam menumbuhkan pusat- pusat baru di suburban tidak terlihat di era desentralisasi ini. Sebaliknya peran swasta dalam menyerap penduduk dan tenaga kerja sangat signifikan melaui pengembangan lahan skala besar yang dilakukan. Contohnya pengembangan lahan kawasan industri Jababeka yang dibangun oleh PT. Jababeka di Cikarang yang terletak di hinterland Jakarta. Studi kasus yang diteliti dalam penelitian ini adalah Kawasan Industri Kendal (KIK) yang sedang dikembangkan oleh PT. Jababeka di hinterland Semarang. Namun, berbeda dengan Kawasan industri Jababeka, KIK dibangun pada era desentralisasi yang diduga proses pengembangan lahan akan menjadi semakin rumit. Dari hasil analisis yang dilakukan, ternyata banyak stakeholder yang terlibat pada tahap perizinan, pembebasan lahan dan penyusunan rencana dalam proses pengembangan lahan KIK. Kata-kunci : proses pengembangan lahan, perizinan, pembebasan lahan, Kawasan Industri Kendal Pengantar Salah satu karakteristik pada era globalisasi adalah tidak terprediksinya pertumbuhan area perkotaan dan terjadi peningkatan arus urbanisasi, terutama ke kota-kota besar yang merupakan kawasan metropolitan. Arus urbanisasi yang tinggi ke kota-kota besar ini meningkatkan kejenuhan struktur dari kota tersebut. Kejenuhan struktur kota di metropolitan menimbulkan kecenderungan yang terbalik yaitu munculnya arus suburbanisasi ke daerah hinterland. Dalam penelitian Hudalah et al (2007) menyatakan bahwa kurang adanya peran pemerintah dalam fenomena suburbanisasi. Hal ini ditunjukan dengan peran pemerintah dalam dekonsentrasi industri skala besar relatif rendah di era desentralisasi ini. Dekonsentrasi industri di daerah hinterland merupakan faktor utama dalam menarik suburbanisasi melalui penyediaan lapangan pekerjaan yang besar dan berujung pada dekonsentrasi tenaga kerja di kota besar. Sebaliknya peran swasta dalam menyerap penduduk dan tenaga kerja sangat signifikan melaui pengembangan lahan skala besar yang dilakukan. Contohnya pengembangan lahan kawasan industri Jababeka yang dibangun oleh PT. Jababeka di Cikarang yang terletak di hinterland Jakarta. Masih terbatasnya penelitian mengenai proses pengembangan lahan dan rendahnya peran pemerintah daerah menjadi penting dilakukan penelitian mengenai proses pengembangan skala besar. Studi kasus yang diteliti dalam penelitian ini adalah Kawasan Industri Kendal (KIK) yang