Seminar Nasional IX – 2013 Teknik Sipil ITS Surabaya Peran Industri Konstruksi dalam Menunjang MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) ISBN 978-979-99327-8-5 I - 1 MENUJU INDEKS BIAYA KONSTRUKSI RUMAH SEJAHTERA MURAH (IBK-RSM) Andreas Wibowo 1 , Arief Sabaruddin 2 , Edi Nur 3 , Rian Wulan Desriani 4 1 Peneliti, Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman, Badan Litbang Kementerian Pekerjaan Umum, E-mail korespondensi: andreaswibowo1@yahoo.de ABSTRAK Salah satu isu program pembangunan rumah nasional bagi masyarakat berpenghasilan rendah adalah menentukan indeks biaya konstruksi (IBK) yang berlaku untuk suatu daerah atau waktu tertentu. Sejauh ini belum ada IBK yang dipublikasikan, baik oleh instansi Pemerintah atau lembaga lainnya. Tulisan ini menyajikan diskursus penyusunan IBK spesifik untuk rumah sejahtera murah (IBK-RSM) dan alternatif metodologi perhitungan IBK-RSM menggunakan pendekatan simulasi dan regresi. Analisis sensitivitas memperlihatkan dari sekian banyak komponen biaya konstruksi, enam item biaya mempunyai pengaruh terbesar terhadap variasi biaya konstruksi secara keseluruhan: semen, besi, kayu kelas II, pasir pasang, upah pekerja, dan upah tukang. Menggunakan salah satu referensi biaya di lebih dari 20 ibu kota provinsi, model IBK-RSM ini diaplikasikan sebagai ilustrasi. Beberapa isu terkait dengan upaya mendefinisikan IBK-RSM, termasuk standarisasi terminologi harga satuan yang berlaku di daerah dan keterbatasan studi didiskusikan dalam tulisan ini. Kata kunci: rumah murah, indeks biaya konstruksi, simulasi, sensitivitas, regresi 1. PENDAHULUAN Salah satu isu pembangunan perumahan di Indonesia adalah backlog yang menurut Badan Pusat Statistik (BPS) sudah mencapai 13,6 juta unit rumah untuk tahun 2012. Angka ini ditengarai akan terus meningkat setiap tahun bila laju kenaikan permintaan tidak diimbangi dengan laju pasokan yang signifikan. Di satu sisi kebutuhan perumahan demikian besar; di sisi lain, masih banyak kelompok masyarakat yang berpenghasilan rendah (MBR) yang memiliki daya beli terbatas. Pemerintah telah mengeluarkan program pembangunan rumah (sejahtera) murah (RSM) bagi MBR. Terlepas dari pro dan kontra program tersebut, isu harga rumah perlu dieksaminasi lebih lanjut. Kebijakan yang menetapkan harga rumah yang seragam sangat tidak direkomendasikan mengingat komponen harga rumah berbeda secara geografis. Kebijakan harga yang tidak tepat dapat berdampak negatif bagi pasokan dan permintaan rumah sederhana yang pada gilirannya berkonsekuensi pada kesinambungan program itu sendiri. Penetapan harga bisa didasarkan pada indeks harga konsumen yang diterbitkan BPS tiap bulannya. Namun, indeks ini tidak merefleksikan biaya konstruksi sebenarnya karena merupakan agregasi kelompok barang konsumsi yang sebagian besar tidak berkaitan dengan proses konstruksi. Untuk itu perlu disusun sebuah indeks biaya yang lebih spesifik yaitu indeks biaya konstruksi (IBK). Secara prinsip, IBK seharusnya merefleksikan perbandingan perubahan harga dari waktu ke waktu suatu produk barang atau jasa yang sifatnya tetap. [1] Indeks ini sangat bermanfaat bagi kepentingan penyesuaian atau perkiraan biaya aktivitas konstruksi di masa mendatang. [2,3] Tulisan ini mempunyai dua motivasi yaitu mengusulkan disusunnya suatu IBK spesifik untuk rumah sejahtera murah (IBK-RSM) yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan yang lebih luas seperti zonasi harga atau