1 ANALISA MECHANICAL DAN METALLURGICAL PENGELASAN BAJA KARBON A36 DENGAN METODE SMAW Fajar Riyadi*, Dony Setyawan, S.T., M.Eng.** * Mahasiswa Jurusan Teknik Perkapalan ** Staf Pengajar Jurusan Teknik Perkapalan Jurusan Teknik Perkapalan, Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Sukolilo – Surabaya (60111) Telp. : 085228282827 Email : joken99n@gmail.com ABSTRAK Efek dilusi adalah efek yang terbentuk pada saat proses pengelasan. Persentase dilusi lasan ini akan dipengaruhi oleh bentuk kampuh dari logam induk. Komposisi logam dilusi yang terbentuk akan berbeda dengan logam induk atau pun logam pengisinya. Hal ini jelas akan mempengaruhi kualitas dari material hasil pengelasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh luasan diluted metal tersebut terhadap kualitas hasil pengelasan. Material yang digunakan dalam penelitian ini adalah baja karbon rendah A36. Metode pengelasan yang digunakan adalah SMAW dengan elektroda E6013. Terdapat tiga model spesimen uji, model I (pengelasan dengan bentuk kampuh single vee), model II (pengelasan dengan bentuk kampuh double vee), sedangkan model III (pengelasan dengan bentuk kampuh square). Pengujian yang dilakukan adalah radiography test, metallography test, vickers microhardness dan compact tension tpecimen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk kampuh mempengaruhi luasan diluted metal yang terbentuk. Persentase luasan diluted metal yang paling besar terbentuk pada pengelasan dengan bentuk kampuh square, yaitu sebesar 28,30%. Persentase perlit pada daerah HAZ dan weld metal meningkat pada tiap-tiap variasi bentuk kampuh. Persentase kandungan perlit paling banyak terbentuk pada pengelasan dengan bentuk kampuh single vee, yaitu sebesar 29.64% dan 57.75%. Harga fracture toughness berbanding terbalik dengan persentase kandungan pearlite dan nilai kekerasan. Jika harga fracture toughness naik sebesar 0,58% maka persentase kandungan perlit akan turun sebesar 55.83% dan harga kekerasannya akan turun sebesar 6.68%. Semakin tinggi harga fracture toughness suatu material maka semakin kecil persentase kandungan perlit dan nilai kekerasannya. Kata kunci : analisa mechanical, analisa metallurgical, dilusi lasan, baja karbon A36, SMAW. 1. PENDAHULUAN Lingkup penggunaan teknik penyambungan material (pengelasan) dalam konstruksi sangat luas, meliputi bidang perkapalan, pembuatan jembatan, rangka baja, bejana tekan, pipa saluran, kendaraan rel dan sebagainya. Selain itu, proses las dapat juga dipergunakan untuk reparasi misalnya untuk mengisi lubang-lubang pada coran, mempertebal bagian-bagian yang sudah aus, replating dan macam-macam reparasi lainnya. Prosedur pengelasan kelihatannya sangat sederhana, tetapi sebenarnya di dalam proses melakukannya banyak masalah-masalah yang harus diatasi. Sifat mekanik suatu bahan adalah sifat terpenting karena berkaitan dengan kemampuan bahan untuk menerima beban tanpa menimbulkan kerusakan atau kegagalan pada bahan/struktur tertentu. Panas yang terjadi akibat proses pengelasan akan merubah struktur kristal material sehingga akan menyebabkan turunnya sifat fisis dan mekanik dari material yang dilas. Proses pengelasan yang dilakukan pada akhirnya akan menentukan hasil akhir dari konstruksi tersebut, meskipun ada parameter lain yang mempengaruhi. Persyaratan kualitas dalam proses penyambungan material adalah harus sesuai dengan standar meliputi kekuatan, keuletan, ketangguhan, kekerasan dan ketahanan korosi. Diluted metal adalah salah satu komposisi dari weld metal yang terbentuk pada saat proses pengelasan. Luasan diluted metal ini akan dipengaruhi oleh welding speed (kecepatan pengelasan) dan bentuk kampuh dari logam induk. Komposisi diluted metal yang terbentuk akan berbeda dengan logam induk atau pun logam pengisinya. Hal ini jelas akan mempengaruhi kualitas dari material hasil pengelasan. Dalam penelitian tugas akhir ini, penulis mencoba untuk mengetahui dan menganalisa pengaruh diluted metal yang terbentuk terhadap mechanical characteristic dan metallurgical characteristic hasil pengelasan baja karbon A36.