D02-1 Pemanfaatan Tanin dari Kulit Kayu Bakau sebagai Pengganti Gugus Fenol pada Resin Fenol Formaldehid YC Danarto 1* , Stefanus Ajie Prihananto 2 , Zery Anjas Pamungkas 2 1 Staf Pengajar Jurusan Teknik Kimia FT UNS, Jl. Ir. Sutami No.36 A Surakarta 2) Mahasiswa Jurusan Teknik Kimia FT UNS, Jl. Ir. Sutami No.36 A Surakarta Abstract The increasing of wood production will increase the consumption of resin phenol formaldehyde for adhesive. In order to overcome the phenol limitation in resources , it is necessary to offer phenol substitution by tannin which has the same OH configuration. Mangrove bark contains about 26 % tannin. The objection of this research was to study the effect of ethanol concentration upon tannin extraction and to study the effect of ratio tannin : phenol : formaldehyde upon the adhesive quality. There were two step in this research, tannin extraction and phenol- formaldehyde modification by tannin. Tannin extraction from mangrove bark by ethanol solution was carried in stirred flask on 70 o C for 3 hours. The result showed that ethanol concentration had proportional effect on tannin yield. Modification phenol-formaldehyde resin was carried by adding tannin in different ratios (10%, 20%, or 40% of the phenol weight) with NaOH catalyst (pH 9) and mixed in stirred flask on 85 o C for 2.5 hours. The modificated adhesive was tested by shear test and tensile test. The result showed that modificated adhesive had better shear test compare to non-modificated adhesive for adding tannin not more than 20 % wt phenol but there was an opposite result for tensile test. The optimum result was shown on adding tannin 20 % of phenol weight.( shear test 46.305 kg/cm 2 and tensile test 13.582 kg/cm 2 ). It was concluded that tannin can be used as phenol substitution for phenol-formaldehyde adhesive. Keywords: mangrove bark, tannin, phenol-formaldehyde adhesive Pendahuluan Produksi kayu lapis di Indonesia dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Kementerian Kehutanan RI (2009) mencatat produksi kayu lapis di Indonesia pada tahun 2008 mencapai 3.353.479 m 3 . Produksi kayu lapis yang besar akan meningkatkan konsumsi bahan perekat seperti resin fenol formaldehid. Untuk mengurangi ketergantungan fenol sebagai bahan baku tidak terbarukan maka perlu dicari sumber bahan baku alternatif yang terbarukan. Salah satu bahan baku alternatif yang menjanjikan adalah tanin. Tanin dapat diperoleh dari hampir semua jenis tumbuhan hijau baik tumbuhan tingkat rendah maupun tingkat tinggi dengan kadar dan kualitas yang bervariasi. Tanin merupakan senyawa polifenol yang sangat kompleks. Oleh karena adanya gugus fenol, maka tanin dapat bereaksi dengan formaldehid (polimerisasi kondensasi) membentuk produk thermosetting yang dapat digunakan sebagai bahan perekat. Pohon bakau (Rhizopora sp.) merupakan salah satu tanaman yang memiliki kandungan tanin yang besar terutama di bagian kulitnya. Berdasarkan hasil analisis colorimetric, kandungan tanin dalam kulit kayu bakau mencapai sekitar 5,4 % (www.poultryindonesia.com) Tujuan penelitian ini mempelajari pengaruh konsentrasi pelarut terhadap ekstraksi tanin pada kulit kayu pohon bakau dan mempelajari pengaruh ratio tanin dalam resin fenol-formaldehid terhadap kualitas perekat fenol-formaldehid. Tinjauan Pustaka Pohon Bakau. Pohon bakau merupakan salah satu vegetasi yang banyak ditemukan di pantai-pantai teluk dangkal, estuaria, delta dan daerah pantai terlindung dan masih dipengaruhi oleh pasang surut. Tumbuhan ini memiliki ciri-ciri yang mencolok berupa akar tunjang yang besar dan berkayu, pucuk yang tertutup daun penumpu yang meruncing, serta buah yang berkecambah serta berakar ketika masih di pohon (vivipar). Pohon bakau yang digunakan dalam penelitian ini yaitu jenis Rhizopora mucronata. Jenis pohon bakau ini mempunyai tajuk yang padat dan hijau. Rhizopora mucronata tumbuh di tanah berlumpur lembek dengan kadar garam yang rendah. Perakaran tanaman ini tetap terendam selama air laut pasang. Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia “Kejuangan” ISSN 1693 – 4393 Pengembangan Teknologi Kimia untuk Pengolahan Sumber Daya Alam Indonesia Yogyakarta, 22 Februari 2011