Resensi buku DUA TANGIS DAN RIBUAN TAWA yang ditulis oleh Dahlan Iskan. Dari judulnya, saya pikir bahwa buku ini merupakan penjabaran lebih detail dari makna judul tersebut namun ternyata dugaan saya salah. Walaupun dulu, saya pernah mendengar bahwa buku ini menceritakan pengalaman pak DIS (begitulah bawahannya menyapa) selama menjadi DIRUT PLN. Ternyata, memang benar buku ini merupakan pengalaman beliau semasa di PLN. Namun terdiri dari beberapa judul. Seperti yang disampaikan oleh pak DIS sendiri bahwa buku ini berawal dari grup chatting di PLN sendiri. Dikarenakan banyak permintaan dari beberapa rekan tuk di terbitkan, yah mau tidak mau akhirnya pak DIS pun setuju. Buku ini merupakan cara komunikasi pimpinan yang cukup efektif dalam mengatasi beberapa permasalahan dalam perusahaan tersebut. Dan lagi, komunikasi yang digunakan pun bukanlah seperti umumnya yang lebih banyak instruktif, pak DIS lebih kepada menyelami dan menghayati permasalahan yang terjadi di internal sehingga semua orang disitu boleh memberikan ide ataupun solusi tanpa ada keraguan atau rasa takut/sungkan kepada pimpinan. Inilah cara komunikasi yang brilian dan jenius saya pikir. Seperti kata beliau dalam bukunya, nasihat tetapi bukan khotbah, mau tapi bukan menuruti, curhat tapi bukan berkeluh kesah, jengkel tapi bukan marah, ingin tapi bukan perintah dan pandangan tapi bukan pengarahan. Memang hanya sedikit orang yang berpikir di luar kotak. Sebelum pak DIS membicarakan hal yang besar, dia memulai dari sesuatu yang sederhana. Kita lihat seperti pengadaan seragam dan banyaknya karyawan yang merokok dalam ruangan yang ber-AC. Akhirnya beliau membuat keputusan bahwa pengadaan seragam di hapus. Begitu juga dengan rokok : no smoking inside or outside room for public convenient. Keputusan yang memang tidak semudah permasalahannya. Namun disini pak DIS memberikan contoh bahwa pimpinan memiliki otoritas penuh dalam mengatur/mengelola sebuah perusahaan. Pun tidak lupa bahwa keputusan yang di buat tidaklah semena-mena melainkan juga mempertimbangkan dari sisi tertentu. Misalnya tentang pengadaan seragam. Banyak opsi yang ditawarkan, ada yang menghendaki baju seragam diserahkan ke masing-masing propinsi atau pula menjadikannya dalam bentuk cash. Seandainya salah satu opsi tersebut dikabulkan maka akan menimbulkan permasalahan lain. contoh, jika baju seragam diserahkan kepada masing- masing propinsi, tentunya lambat laun akan menimbulkan kecemburuan sosial. Propinsi di jawa jauh lebih bagus daripada yang di luar jawa misalnya. “coba lihat tuh seragam mereka (dari jawa), bagus-bagus, seragam kita kok ala kadarnya. Sebel deh” kata pegawai wanita. Pun dengan masalah rokok. Ada yang bilang bahwa merokok merupakan hak asasi setiap manusia. Namun pertanyaannya adalah jika merokok merupakan HAM, bagaimana dengan orang yang tidak merokok? Apakah mereka tidak punya HAM juga? Nah disini memberikan keputusan yang ditinjau dari sisi sosiologis. Banyak keluhan terutama dari pegawai wanita. Seandainya pak DIS menyetujui bahwa boleh merokok asalkan diluar, maka betapa sengsaranya para Gadis eh maksudnya pegawai wanita itu. Mereka mempunyai hak untuk menghirup udara yang bersih dan segar. Bahkan ada yang nyeletuk “uda punya rokok sendiri kok bingung- bingung beli huft…”. Dijawab oleh perokok, “kalo g beli, nanti yang dirumah marah cz rokoknya dipakai sembarangan hahaha”. Loh, kok malah ngelantur kesana omongannya.kembali ke laptop. Maneh, koyo Tukul ae. Sak karepe lah. Poko’e ngono kuwi hehe.