Prosiding Seminar Mission Today STT Baptis Medan TANTANGAN MISI DALAM PRESPEKTIF PEMIKIRAN ERA POSTMODERN Fernando Tambunan viery2006@yahoo.co.id Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan ABSTRAK Melaksanakan penginjilan maupun bermisi dalam era postmodern adalah masalah dan tantangan tersendiri karena postmodern bertentangan dengan Kekristenan khususnya penginjilan. Penyelesaian masalah dalam makalah ini menggunakan studi kepustakaan. Dengan temuan yang di dapat bahwa saat ini dimana dalam era modern orang jenuh dengan agama maka di era postmodern dianggap memberikan angin segar dalam hal spritualitas, postmodernisme dianggap sebagai suatu spritualitas yang baru. Salah satu hal yang paling berkembang dalam pemikiran era postmodern adalah pluralism, dimana pluralism memiliki pemikiran utama yakni kemajemukan dalam segala hal dan segala bidang apapun. Pengutusan para misionaris tidak lagi dalam pengertian membawa Injil kepada mereka yang didatangi, melainkan hanya sebagai mediator dalam dialog-dialog keagamaan. Kesimpulan yang didapat adalah era ini harus dianggap sebagai suatu motivasi untuk lebih giat lagi dalam melakukan misi. Namun satu hal yang harus diperhatikan supaya kekristenan dapat diterima di era postmodern, paradigma misi harus direform, cara-cara yang dulu dilakukan dalam menjalankan misi juga harus disesuaikan dengan era ini, tetapi isi atau berita misi tidak boleh dirubah karena amanat agung Tuhan Yesus tidak pernah berubah Kata Kunci: misi, penginjilan, postmodern PENDAHULUAN Dunia sekarang ini sedang mengalami pergeseran kebudayaan, dari modern ke era postmodern. Hal ini terjadi sebagai reaksi terhadap modernisme yang mengagungkan pengetahuan, rasio atau intelektual. Postmodernisme merupakan suatu paham yang memusatkan segala sesuatu kepada intuisi, emosi dan berasumsi bahwa kebudayaan manusia, sejarah dan alam semesta bersifat relative, hal ini dapat diartikan bahwa tidak ada suatu kebenaran yang bersifat mutlak, dan kebenaran itu ditentukan oleh intuisi dan emosi manusia semata. Gereja, baik secara organisasi maupun secara organisme pun perlahan namun pasti harus diakui mulai terseret dalam situasi ini. Jika pada zaman sebelumnya, yakni zaman modern, gereja sangat menekankan keradikalan, sekarang mulai ada yang meninggalkan nilai-nilai radikal, dan beralih kepada relativitas dalam segala aspek. Bahaya dari relativisme ini adalah, karena segala sesuatu itu dipandang relatif, maka dengan sendirinya nilai-nilai dalam kekristenan pun menjadi suatu hal yang relatif. Sehingga dengan sendirinya, hal ini menelurkan pemikiran-pemikiran sendiri pada setiap individu dalam gereja, sehingga berbuahlah paham Eksklusivisme yang terkenal dengan ungkapannya : “Benar dalam pandangan anda, belum tentu benar dalam pandangan saya.” Dalam hal penginjilan misalnya. Yang tadinya gereja meneriakkan dengan begitu kerasnya tentang semangat penginjilan dan misi untuk memenangkan jiwa-jiwa yang terhilang bagi Tuhan Yesus Kristus, sekarang ini telah mulai pudar nyalanya. Api pluralisme berkobar lebih besar daripada kobaran api semangat penginjilan sebagaimana yang diagung- agungkan pada mulanya. Kekristenan pun dipandang sebagai sebuah agama yang sudah mulai ketinggalan zaman. Karena itu era ini menjadi salah satu tantangan yang cukup besar bagi orang Kristen dewasa ini, khususnya ketika dihubungkan dengan berita keselamatan dari Yesus Kristus dalam pekerjaan misi. Oleh karena itu, studi ini akan membahas tentang tantangan misi dihubungkan dengan fenomena postmodernisme dalam gereja.