. Dinamis 2. Bercorak romantik/idealistis, masih secorak dengan angkatan sebelumnya, hanya saja kalau romantik angkatan Siti Nurbaya bersifat fasip, sedangkan angkatan Pujangga Baru aktif romantik. Hal ini berarti bahwa cita-cita atau ide baru dapat mengalahkan atau menggantikan apa yang sudah dianggap tidak berlaku lagi. 3. Angkatan Pujangga Baru menggunakan bahasa Melayu modern dan sudah meninggalkan bahasa klise. Mereka berusaha membuat ungkapan dan gaya bahasa sendiri. Pilihan kata, Penggabungan ungkapan serta irama sangat dipentingkan oleh Pujangga Baru sehingga dianggap terlalu dicari-cari 4. Ditilik bentuknya, karya angkatan Pujangga Baru mempunyai ciri-ciri: a. Bentuk puisi yang memegang peranan penting adalah soneta, disamping itu ikatan- ikatan lain seperti quatrain dan quint pun banyak dipergunakan. Sajak jumlah suku kata dan syarat-syarat puisi lainnya sudah tidak mengikat lagi, kadang-kadang para Pujangga Baru mengubah sajak atau puisi yang pendek-pendek, cukup beberapa bait saja. Sajak-sajak yang agak panjang hanya ada beberapa buah, misalnya ”Batu Belah” dan ”Hang Tuah” karya Amir Hamjah. b. Tema dalam karya prosa (roman) bukan lagi pertentangan faham kaum muda dengan adat lama seperti angkatan Siti Nurbaya, melainkan perjuangan kemerdekaan dan pergerakan kebangsaan, misalnya pada roman Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana c. Bentuk karya drama pun banyak dihasilkan pada masa Pujangga Baru dengan tema kesadaran nasional. Bahannya ada yang diambil dari sejarah dan ada pula yang semata-mata pantasi pengarang sendiri yang menggambarkan jiwa dinamis. Genre prosa Angkatan 33 (Pujangga Baru) berupa: Ciri perkembangan puisi pada angkatan pujangga baru adalah 1) Bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia modern, 2) Temanya tidak hanya tentang adat atau kawin paksa, tetapi mencakup masalah yang kompleks, seperti emansipasi wanita, kehidupan kaum intelek, dan sebagainya, 3) Bentuk puisinya adalah puisi bebas, mementingkan keindahan bahasa, dan mulai digemari bentuk baru yang disebut soneta, yaitu puisi dari Italia yang terdiri dari 14 baris, 4) Pengaruh barat terasa sekali, terutama dari Angkatan ’80 Belanda, 5) Aliran yang dianut adalah romantik idealisme, dan 6) Setting yang menonjol adalah masyarakat penjajahan. Ciri-ciri puisi pada angkatan pujangga baru yaitu : 1) Puisinya berbentuk puisi baru, bukan pantun dan syair lagi, 2) Bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima, 3) Persajakan (rima) merupakan salah satu sarana kepuitisan utama, 4) Bahasa kiasan utama ialah perbandingan, 5) Pilihan kata-katanya diwarnai dengan kata-kata yang indah, 6) Hubungan antara kalimat jelas dan hampir tidak ada kata-kata yang ambigu, 7) Mengekspresikan perasaan, pelukisan alam yang indah, dan tentram. Sementa itu menurut Herman J. Waluyo (2010 : 64) mengatakan bahwa ciri-ciri puisi Pujangga Baru antara lain: