INOVASI MODEL PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Oleh Kastam Syamsi FBS Universitas Negeri Yogyakarta Dalam berbagai referensi pembelajaran bahasa dan sastra, terdapat beraneka ragam metode atau strategi pembelajaran bahasa dan atau sastra. Strategi tersebut umumnya diturunkan dari pendekatan pembelajaran bahasa dan sastra yang dikembangkan oleh para ahli. Berikut ini, disajikan beberapa metode atau strategi pembelajaran bahasa dan sastra. A. Pembelajaran Bahasa 1. Model Pembelajaran Membaca a. Pendekatan Proses Pembelajaran membaca dapat menggunakan pendekatan proses (Tomkins & Hoskisson, 1995; Tomkins, 2010). Proses yang dimaksud adalah proses membaca. Penelitian Syamsi (2000) dan Syamsi & Kusmiatun (2005) menyimpulkan bahwa pembelajaran membaca dengan menggunakan pendekatan proses dapat meningkatkan keterampilan membaca siswa. Menurut hasil penelitian Palmer et.al. (1994), antara lain disebutkan bahwa siswa akan mendapatkan keuntungan jika proses, seperti proses membaca, diperagakan di hadapan siswa. Adapun proses membaca meliputi: persiapan untuk membaca, membaca, merespon, mengeksplorasi teks, dan memperluas interpretasi. Proses membaca tidak dimulai dengan membuka buku dan langsung membaca (Tomkins & Hoskisson, 1995; Tomkins, 2010), tetapi melalui persiapan. Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah (1) memilih buku/bacaan, (2) menghubungkan buku/bacaan dengan pengalaman pribadi dan pengalaman membaca sebelumnya, (3) memprediksi isi buku/bacaan, dan (4) mengadakan tinjauan pendahuluan terhadap buku/bacaan. Tujuan utama tahap ini adalah untuk mengaitkan antara pengetahuan sebelumnya dengan teks yang akan dibaca. Pada tahap kedua, yakni membaca, siswa membaca buku atau teks secara keseluruhan. Ada lima macam model membaca yang dapat dilakukan (Tomkins & Hoskisson, 1995; Tomkins, 2010), yakni (1) membaca nyaring (reading aloud), (2) membaca bersama (shared reading), (3) membaca berpasangan (buddy reading), (4) membaca terbimbing (guided reading), dan (5) membaca bebas (independent reading). Kelima macam model membaca ini dapat diterapkan sesuai dengan jenis dan tujuan pembelajaran membaca di sekolah. Pada tahap ketiga, merespon, siswa memberi respon terhadap kegiatan membaca mereka dan terus berusaha memahami isi. Ada dua langkah yang dapat dilakukan siswa untuk tahap ini (Tomkins & Hoskisson, 1995; Tomkins, 2010), yakni (1) memberi tanggapan dalam bentuk menulis pada format hasil membaca, dan (2) berpartisipasi dalam diskusi klasikal. Kedua langkah ini dapat diterapkan sesuai dengan situasi dan kebutuhan di kelas. Setelah memberi respon, para siswa kembali memperhatikan buku/bacaan untuk menggali isinya lebih dalam lagi. Kegiatan ini disebut dengan menggali teks. Pada tahap ini siswa melakukan langkah-langkah: (1) membaca ulang buku/bacaan, (2) menemukan gaya bahasa khusus penulis (the author's craft), (3) mempelajari kosakata baru, (4) mengidentifikasi ide bacaan, dan (5) berpartisipasi dalam pengajaran singkat yang dilakukan guru (Tomkins & Hoskisson, 1995; Tomkins, 2010). Kegiatan