1 MEMBAHAS PROFESIONALITAS GURU SEKOLAH LUAR BIASA DARI SUDUT PANDANG YANG TIDAK IDEAL Arina Mufrihah STKIP PGRI Sumenep e-mail adress: arina_06maret@yahoo.com ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui: (1) kualifikasi akademik guru serta dampaknya pada keterampilan mengajar guru SLB; (2) dedikasi dan kepedulian guru pada kebutuhan ABK; dan (3) kemampuan guru dalam melakukan layanan konseling pada siswa yang memiliki masalah dengan kegiatan sekolah. Metode penelitian yang digunakan ialah deskriptif kualitatif, dengan metode pengumpul data wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Dharma Wanita, Sumenep yang merupakan SLB pertama dari 3 SLB yang ada di Kabupaten Sumenep. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh jawaban bahwa model SLB ialah integrasi antara jenjang dan integrasi antar jenis, jadi setiap guru akan mengajar siswa dengan jenis disabilitas dan jenjang pendidikan yang berbeda dalam satu rombongan kelas. Selain itu tidak semua guru memiliki kualifikasi akademik S1 PLB, bahkan masih ada guru lulusan SMA dan S1 dari jurusan lain sebagai guru/ wali kelas rombongan belajar siswa. Kenyataan kualifikasi akademik guru tidak dapat dinilai bahwa guru tidak profesional. Para guru sangat sabar, tulus, dan bersungguh-sungguh mendedikasikan hidupnya untuk siswa disabilitas, terlihat dari cara guru menyusun materi pelajaran yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi siswa, dan cara menjelaskan isi materi yang sederhana dengan cara yang kreatif, juga selalu disesuaikan dengan minat dan kemampuan siswa. Yang menjadi fokus utama guru ialah bagaimana siswa tetap mau mengikuti proses pembelajaran di sekolah, dan hal itu seringkali membuat guru tidak dapat mengikuti kurikulum karena nyatanya kondisi mental setiap siswa tidak dapat dipandu oleh kurikulum. Guru SLB dituntut untuk memiliki kreatifitas yang tinggi, atau dengan kata lain harus dapat melakukan berbagai hal, termasuk layanan konseling. Apalagi di sekolah belum ada tenaga profesional seperti konselor dan psikolog. Jadi, setiap permasalahan siswa yang berkaitan dengan aktifitas sekolah, seperti siswa yang malas dan agresif sepenuhnya ditangani oleh guru SLB. Secara ideal, guru SLB harus lulusan S1 PLB dan sekolah pun harus bekerja sama dengan ahli lain untuk menfasilitasi perkembangan para siswa disabilitas. Namun dengan kenyataan yang bertolak belakang, baik karena faktor regulasi, faktor ekonomi, maupun faktor motivasi guru untuk melajutkan studi menjadi hal-hal menarik untuk didiskusikan dalam penelitian ini. Kata kunci: Sekolah Luar Biasa, kualifikasi akademik, keterampilan mengajar, layanan konseling INTRODUCTION Negara sepenuhnya bertanggung jawab atas pendidikan setiap warga negaranya, tidak terkecuali anak-anak cacat dan berkebutuhan khusus (ABK). Dalam salah satu kebijakan