KERAGAMAN DAN KEMAMPUAN LICHEN MENYERAP AIR SEBAGAI BIOINDIKATOR PENCEMARAN UDARA DI KEDIRI Siti Nurjanah 1 , Yousep Anitasari 2 , Shofa Mubaidullah 3 , Ahmad Bashri 4 1,2,3 Mahasiswa S1 Prodi Pendidikan Biologi Universitas Nusantara PGRI Kediri 4 Staf Pengajar Prodi Pendidikan Biologi Universitas Nusantara PGRI Kediri Email: janahsiti13@gmail.com ABSTRAK Lichen dapat digunakan sebagai bioindikator pencemaran udara. Penelitian ini bertujuan mempelajari keragaman morfologi talus dan persentase penutupan di lokasi kawasan industri pabrik rokok Gudang Garam dan kawasan Ubalan Kediri. Data sampel talus Lichen diambil menggunakan metode transek dalam plot dengan modifikasi. Pengamatan sampel Lichen berupa penutupan talus dan kemampuan Lichen dalam menyerap air. Sampel Lichen diambil dengan cara dikerik dari permukaan kulit batang pohon (bark) pada kedua sisi batang pohon di ketinggian kira-kira 100-200 cm dari permukaan tanah. Kemampuan Lichen menyerap air dihitung melalui selisih bobot jenuh (BJ) dengan bobot kering (BK). Tipe morfologi talus yang ditemukan di kawasan Gudang Garam dan Ubalan yaitu Crustose dan Foliose. Pada kawasan Ubalan Persentase penutupan talus Tipe Foliose 8,38% dan Crustose 3,56% sedangkan pada kawasan Gudang Garam persentase penutupan talus Tipe Foliose 0,60% dan Crustose 2,20%. Kemampuan Lichen menyerap air di kawasan Ubalan tipe Foliose yaitu 4,347 g/2 g sampel dan Crustose 1,773 g/2 g sampel sedangkan kemampuan menyerap air di kawasan Gudang Garam tipe Foliose 2,5 g/2 g sampel dan tipe Crustose 2,34 g/2 g sampel. Jumlah Lichen yang ditemukan pada lokasi pengamatan semakin bertambah seiring dengan banyaknya tegakan pohon, kualitas udara, suhu dan kelembapan yang semakin baik. Kualitas udara di kawasan indutri Gudang Garam rendah karena polusi kendaraan yang lewat setiap harinya yaitu 72 kendaraan/menit saat jam sibuk. Selain itu, juga memiliki suhu dan kelembapan udara rata-rata yang relatif lebih tinggi yaitu 280C, kelembapan udara 75,5 % bila dibandingkan dengan Ubalan ini dikarenakan adanya aktivitas industri dan kurangnya vegetasi penghijauan. Kata kunci: Lichen, Bioindikator Pencemaran Udara PENDAHULUAN Dalam era pembangunan sekarang ini, banyak kota-kota besar di Indonesia yang saling berlomba-lomba untuk meningkatkan kemajuan daerahnya dalam bidang industri, teknologi dan tata kota yang modern. Pesatnya pembangunan terutama dalam bidang industri dapat juga menimbulkan dampak yang buruk bagi kota tersebut seperti pencemaran udara dan krisis air bersih. Pencemaran udara adalah masuknya zat pencemar ke dalam udara baik secara alamiah maupun oleh aktivitas manusia (Ryadi, 1982; Soedomo, 2001). Adanya gas-gas seperti dan partikulat- partikulat dengan konsentrasi melewati ambang batas, maka udara di daerah tersebut dinyatakan sudah tercemar. Selain itu, pembangunan industri di kota-kota juga dapat mempersempit lahan tempat tumbuh pohon-pohon yang mampu menyerap air dan memberikan sumber air bersih di kota tersebut Udara sebagai komponen lingkungan yang penting dalam kehidupan perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya sehingga dapat memberikan daya dukungan bagi mahluk hidup untuk hidup secara optimal. Oleh karena itu, tumbuhan dapat digunakan sebagai bioindikator yang akan menunjukan perubahan keadaan, ketahanan tubuh, dan akan memberikan reaksii sebagai dampak perubahan kondisi lingkungan yang akan memberikan informasi tentang perubahan dan tingkat pencemaran lingkungan (Kovacs, 1992). Penggunaan lichen sebagai bioindikator dinilai lebih efisien dibandingkan menggunakan alat atau mesin indikator ambien yang dalam pengoperasiannya memerlukan biaya yang besar dan penanganan khusus (Loopi et al. 2002). Lumut kerak atau lichen adalah salah satu organisme yang digunakan sebagai bioindikator pencemaran udara. Kematian lichen yang sensitif dan peningkatan dalam jumlah spesies yang lebih tahan dalam suatu daerah dapat dijadikan peringatan dini akan kualitas udara yang memburuk (Cambell, 2003). Penelitian lichen sebagai bioindikator pencemaran udara masih sedikit dilakukan sehingga pada penelitian ini akan dikaji lebih mendalam mengenai keragaman morfologi talus, penutupan talus dan kemampuan lichen dalam menyerap air di kawasan Kediri. Kota Kediri sebagai daerah yang diduga mengalami pencemaran udara. Lokasi yang dipilih dalam penelitian ini yaitu kawasan industri pabrik rokok Gudang Garam dan kawasan wisata Ubalan di Kediri. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai keragaman morfologi talus, penutupan talus dan kemampuan lichen menyerap air di lokasi kawasan industri pabrik rokok Gudang 5-051