ASPEK FARMAKOKINETIKA KLINIK OBAT-OBAT YANG DIGUNAKAN PADA PASIEN SIROSIS HATI DI BANGSAL INTERNE RSUP DR. M. DJAMIL PADANG PERIODE OKTOBER 2011 – JANUARI 2012 Oleh : Ira Oktaviani Rz*) Korespondensi : irarazak@ymail.com Farmakokinetika klinik adalah penerapan prinsip farmakokinetik pada keamanan dan manajemen terapi obat yang efektif pada seorang pasien. Pada prinsipnya penerapan farmakokinetika klinik bertujuan untuk meningkatkan efektivitas terapi atau menurunkan efek samping dan toksisitas obat pada pasien. Sirosis hepatis adalah penyakit yang ditandai oleh adanya peradangan difus dan menahun pada hati, diikuti dengan proliferasi jaringan ikat, degenerasi, dan regenerasi sel-sel hati, sehingga timbul kekacauan dalam susunan parenkim hati. Pada sirosis hati, dapat terjadi akumulasi kadar obat di dalam plasma terutama yang dimetabolisme di hati, konsekuensinya regimen dosis obat tertentu harus disesuaikan berdasarkan laju metabolisme pasien dengan gangguan fungsi hati.Penelitian ini dilakukan pada pasien rawat inap di bangsal interne RSUP. DR. M. DJAMIL Padang selama 4 bulan (Oktober 2011–Januari 2012). Jenis data yang diambil meliputi masalah–masalah aspek farmakokinetik yang ditemukan terkait dengan pengunaan obat-obat yang dapat memperburuk fungsi hati yaitu aspek kesesuaian dosis, efek samping yang merugikan, efek toksik dan interaksi. Untuk penyesuaian dosis individual dilakukan berdasarkan data nilai child pugh. Data dianalisa secara statistik deskriptif serta dilakukan perhitungan jumlah persentase dan disajikan dalam bentuk tabulasi dan diagram. Dari penelitian ini diperoleh data pasien menerima 4 jenis obat yang dapat memperburuk fungsi hati dengan dosis yang masih relatif aman. Persentase pasien sirosis hati berdasarkan nilai Child Pugh didapatkan 95% berada pada kelas C (keadaan hati berat) dan 5 % berada pada kelas B (keadaan hati sedang), sedangkan pada kelas A (keadaan hati ringan) tidak ditemukan. Pasien masih menerima polifarmasi sebesar 60% dengan jumlah obat mulai dari 9 – 14 jenis obat yang sebagian besar dimetabolisme di hati dan dapat memperparah fungsi hati. PENDAHULUAN Farmakokinetik adalah studi yang menghubungkan antara regimen dosis dan perubahan konsentrasi obat di dalam tubuh setiap waktunya. Tipe konsentrasi diukur di dalam darah, serum atau plasma, dan antara konsentrasi-waktu dideskripsikan dalam bentuk persamaan. Pengetahuan mengenai hubungan antara kosentrasi obat di dalam darah dengan respon klinik atau farmakodinamik, berikut efek terapetik dan efek toksik, diukur dengan menggunakan profil konsentrasi-waktu yang juga dapat menggambarkan respon optimal dan resiko minimum toksisitas. Pasien dengan parameter farmakokinetik yang berubah, regimen dosis dari pasien harus diubah pula, untuk menjamin profil konsentrasi-waktu yang optimal. (North & Lewis, 2008). Di dalam bidang farmasi klinis, farmakokinetika memiliki beberapa kegunaan yang cukup penting, yaitu (Santoso, 1985): a. Untuk memilih rute pemberian obat yang paling tepat. Apakah harus secara injeksi intravena, atau bisa dengan rute lain seperti secara oral, rektal dan lain-lain. Ini dapat dilakukan dengan menilai ketersediaan biologis obat setelah pemberian dalam berbagai rute pemberian, dan dengan mempertimbangkan profil kinetika obat yang dihasilkan oleh berbagai rute pemberian tersebut. b. Dengan cara pertimbangan farmakokinetika dapat dihitung aturan dosis yang tepat untuk setiap individu (dosage regimen individualisation). Sampai saat ini prinsip farmakokinetika termasuk cara yang paling tepat untuk pengindividualisasian dosis, khususnya untuk obat-obat dengan daerah kerja terapeutik sempit seperti teofilin, dan lain- lain. c. Data farmakokinetika suatu obat diperlukan dalam penyusunan aturan dosis yang rasional. d. Dapat membantu menerangkan mekanisme interaksi obat, baik antara obat dengan obat maupun antara obat dengan makanan. Organ hati memegang peranan penting sebagai organ yang berfungsi sebagai eliminasi dan bertanggung jawab terhadap metabolisme beberapa bagian besar golongan obat. Pada penyakit gangguan fungsi hati, kemampuan organ tersebut untuk memetabolisme obat juga akan terganggu. Struktur atau fungsinya yang abnormal akan mempengaruhi kemampuan dari hati untuk menangani efektifitas obat (Barber, Nick, Alan, 2006).