Qirom, Jurnal ROTOR, Volume 8 Nomor 2, Nopember 2015 PENGARUH VARIASI TEMPERATUR TERHADAP MASSA DAN ENERGI YANG DIHASILKAN PIROLISIS SERBUK KAYU MAHONI (SWITENIA MACROPHYLLA) PADA ROTARY KILN Ikhwanul Qiram 1 , Denny Widhiyanuriyawan 2 , Widya Wijayanti 2 1 Mhs Program Magister Teknik Mesin Univ. Brawijaya Malang, Staf Pengajar Prodi Teknik Mesin Univ. PGRI Banyuwangi 2 Staf PengajarJurusanTeknikMesinUniversitas Brawijaya Malang Jl. MT. Haryono 167, Malang 65145, Indonesia Email : ikhwanulqiram@gmail.com ABSTRACT Pirolysis is thermochemical decomposition process of biomass into useful product. A method that can be used is a rotary kiln pirolyzer which consist a heating cylinder that rotate with a certain rotation speed. This research is aimed to get the effet of temperature due to char product quantity of switenia macrophylla rotary kiln pirolysis.The research is done by pirolysis experiment with 200 gram of switenia macrophylla in dust form. Temperature heating is varied 250 o C, 350 o C, 450 o C, 500 o C, dan 600 o C. The heating temperature is provide by eletric heater with control system. Temperatur is measured with K type thermocouple. The heating process is taken for 180 minutes using stopwatch. The measurement is done for biomass and char volume using measuring cup. Mass is measured using scale. Low heating value is measured using bomb calorimeter.The result show that temperatur has effect due to char product of switenia macrophylla rotary kiln pirolysis. Char mass loss tend to increase due to temperature increasing. Low heating value and char porosity tend to increase due to mass loss percentage increasing. Shrinking factor and percentage of yield energy tend to decrease due to mass loss percentage increasing. Keywords: pirolysis, rotary kiln, char, temperature PENDAHULUAN Semakin bertambahnya populasi manusia dan meningkatnya laju industrialisasi di berbagai negara di duniamenyebabkan tingkat pemakaian bahan bakar terutama bahan bakar fosil semakin meningkat.Untukituperludilakukanupaya- upayauntukmeningkatkan per tumbuhanenergibarudanterbarukankhususnyadaribioma ssapadatdalammemenuhikebutuhanenergi yang selalubertambahseiringbertambahnyajumlahpenduduk. Untuk dapat mengatasinya salah satu teknologi yang dapat digunakan adalah teknologi pirolisis. Pirolisis yang juga disebut termolisis akan mendekomposisi kimia bahan organik (biomassa) melalui proses pemanasan tanpa atau sedikit O 2 atau reagen lainnya, dimana material mentah akan mengalami pemecahan struktur kimia menjadi fase gas. Teknik ini adalah cara untuk memperoleh hasil hidrokarbon yang merupakan dasar bahan bakar. Teknologi pirolisis dikembangkan dengan variasi metode untuk teknologi bersih dan memiliki aspek pemanfaatan sumber daya alam [1]. Dalam proses pirolisis penggunaan energi sangat besar, dimana energi tersebut digunakan untuk memecah unsur kimia pada bahan pirolisis menjadi moleku-molekul kecil yang ringkas dan menjadi fase gas. Dengan adanya kelemahan tersebut maka perlu dilakukan optimasi penggunaan energi, untuk kepentingan ini, optimasi meliputi laju pemanasan, ukuran partikel bahan, tekanan dan juga identifikasi pirolisis utama dan pirolisis sekunder dalam proses yang berlangsung serta merancang desain reaktor [2]. Salah satu energi alternatif yang banyak dikembangkan adalah bahan organik (biomassa). Biomassa dapat berasal dari tanaman perkebunan atau pertanian, hutan, peternakan atau bahkan sampah. Karena kandungan hidrokarbon yang dimiliki senyawanya, biomassa dapat digunakan untuk menyediakan panas, membuat bahan bakar, dan membangkitkan listrik. Salah satu biomassa yang mudah kita temui adalah limbah dari serbuk mahoni yang berasal dari industri pengolahan kayu. Jenis kayu mahoni banyak ditanam di hutan-hutan Indonesia [3]. Limbah yang terjadi dari pohon yang ditebang, yaitu berupa kayu sampai dengan diameter 15 cm adalah sebesar 57%, sehingga yang dapat dimanfaatkan dari pohon yang ditebang tersebut hanya sebesar 43%. Volume bebas dahan sebesar 21,34 m 3 akan dihasilkan kayu bulat sebanyak 73%, sisanya 27% merupakan limbah dan 71,5% dari limbah tersebut akan ditinggalkan di petak tebang [4]. Mahoni merupakan salah satu jenis kayu yang banyak digunakan dalam industri pengolahan kayu di Indonesia, pada saat ini terdapat 19 buah industri pembuatan papan partikel di Indonesia. Industri ini memanfaatkan limbah kayu dari industri pengolahan kayu sebagai bahan bakunya [5]. Produksi total kayu gergajian Indonesia mencapai 2.6 juta m 3 per tahun. Dengan asumsi bahwa jumlah limbah yang terbentuk 54.24 % dari produksi total maka dihasilkan limbah penggergajian sebanyak 1.4 juta m 3 per tahun [6]. Hal ini turut mendorong untuk meningkatkan nilai tambah dari produksi kayu olahan dari sisi limbah serbuk gergaji yang dihasilkan menjadi sumber energi.