737 CONTINUING PROFESSIONAL DEVELOPMENT CDK-221/ vol. 41 no. 10, th. 2014 PENDAHULUAN Kateterisasi uretra merupakan metode primer dekompresi kandung kemih dan juga berfungsi sebagai alat diagnostik retensi urin akut. 1 Terdapat dua metode yang sering digunakan yaitu kateter indwelling dan kateter intermittent. Kateter indwelling adalah kateter menetap yang digunakan dalam jangka waktu lama sedangkan kateter intermittent adalah kateter yang digunakan sewaktu-waktu. Selain untuk dekompresi kandung kemih, kateter juga digunakan untuk mengevaluasi jumlah urin yang keluar dan pada pasien inkontinensia urin. Mengingat fungsi tersebut, 15% - 25% pasien di rumah sakit memakai kateter. 2 Kateter yang digunakan terlalu sering dan lama atau tidak sesuai indikasi akan meningkatkan risiko berbagai komplikasi; yang paling sering adalah infeksi saluran kemih (ISK). Komplikasi lainnya adalah striktur uretra, hematuria dan perforasi kandung kemih. Prevalensi ISK tinggi pada pasien yang memakai kateter yaitu 80%, dan 10% - 30% pasien tersebut akan mengalami bakteriuria. 2 ISK akibat kateterisasi merupakan tipe infeksi nosokomial yang paling banyak terjadi, 1 juta kasus setiap tahun atau 40% dari semua tipe infeksi nosokomial. 3 Pasien yang memakai kateter juga akan mempunyai risiko 3 kali lebih besar dirawat di rumah sakit lebih lama dan juga pemakaian antibiotik lebih lama, bahkan dilaporkan organisme penyebab ISK akibat kateterisasi adalah organisme yang telah resisten terhadap banyak antibiotik. Tetapi sebagian besar kasus bakteriuria tidak menampakkan gejala klinis (asimtomatis). 3 Gejala klinis yang mungkin timbul bervariasi, mulai dari ringan (panas, uretritis, sistitis) sampai berat (pielonefritis akut, batu saluran kemih dan bakteremia). Jika tidak segera di- tangani maka akan menimbulkan urosepsis bahkan kematian yang mencapai 9.000 kasus per tahun. 4 Diperkirakan 17% - 69% ISK akibat kateterisasi dapat dicegah dengan pengendalian infeksi yang baik. 4 PATOGENESIS Dalam keadaan normal, saluran kemih mempunyai dua mekanisme pertahanan terhadap infeksi. Pertama dengan cara mekanik pembersihan organisme: pada keadaan normal, tekanan aliran urin akan ABSTRAK Infeksi saluran kemih (ISK) akibat pemasangan kateter adalah ISK pada pasien yang pernah atau masih menggunakan kateter. Sebanyak 80% pasien pengguna kateter mengalami ISK. Faktor risiko utama adalah pemakaian kateter lebih dari 6 hari, pemasangan tidak sesuai indikasi dan kurangnya prosedur aseptik saat kateterisasi. Sebagian besar uropatogen penyebab adalah bakteri dan berhubungan dengan pembentukan bioilm pada kateter. Diagnosis ISK akibat kateterisasi berdasarkan kriteria CDC dan NHSN memerlukan pemeriksaan kultur urin. Penanganannya meliputi pelepasan atau penggantian kateter dan terapi medikamentosa. Terapi medikamentosa bersifat empiris yaitu antibiotik berspektrum luas. Upaya pencegahan ISK akibat kateterisasi difokuskan pada teknik pemasangan kateter aseptik dan sesuai indikasi. Kata kunci: Infeksi saluran kemih, kateter, uropatogen, bioilm ABSTRACT Catheter-associated Urinary Tract Infections (CAUTI) is an urinary tract infection in person who had used or still using catheter. As many as 80% patient that use catheter developed urinary tract infection. Major risk factors are catheter use for more than 6 days, improper indication and lack of aseptic procedure. Causative uropathogen is mostly bacteria which is highly related to bioilm formation in the catheter. Diagnosis is based on CDC and NHSN criteria with urine culture. Management consists of removal of catheter and empirical drug therapy with a broad- spectrum antibiotic. Prevention is mainly focused in aseptic technique and proper indications. Wayan Giri Putra Semaradana. Catheter- associated Urinary Tract Infections – Diagnosis and Management. Key words: Urinary tractus infections, catheter, uropathogen, bioilm Alamat korespondensi email: wayangiriputra@yahoo.com Akreditasi PP IAI–2 SKP Infeksi Saluran Kemih akibat Pemasangan Kateter – Diagnosis dan Penatalaksanaan Wayan Giri Putra Semaradana Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Denpasar, Bali, Indonesia CONTINUING MEDICAL EDUCATION CONTINUING PROFESSIONAL DEVELOPMENT