Lapangan Sepak Bola, 1.000 Asa Ekonomi di Desa Rohidin Sudarno Beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 13 April 2016 di Desa Sukaluyu, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat telah dicanangkan program 1.000 Lapangan Desa oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga. Program ini memberikan bantuan berupa 1 lapangan sepak bola untuk 1 desa. Bagaimana kemudian menghubungkan 1 lapangan sepak bola dengan harapan meningkatkan pembangunan di desa. Mungkin tak banyak yang tahu, bahwa lapangan sepak bola di satu desa menjadi sumber aktifitas banyak warga desa tersebut. Selain sarana sepak bola, lapangan sepak bola di desa bisa menjadi sarana aktifitas lain seperti lokasi hiburan rakyat, kegiatan olahraga anak SD/SMP, lomba 17 Agustusan, kegiatan budaya, pameran rakyat, pesta rakyat, lokasi kampanye politik, lomba antar kampung, sarana ibadah, pengumpulan massa, parkir, menjemur padi dan hasil pertanian, serta tak kalah penting adalah kegiatan ekonomi. Tak banyak yang menjadikan lapangan sepakbola sebagai lokasi bisnis bagi pembangunan ekonomi di desa, lapangan sepak bola hanya dipandang lapangan tempat bermain bola. Padahal jika ditelusuri, hampir setiap aktifitas pengumpulan dan pelibatan warga maka denyut ekonomi bisa berputar. Pedagang bisa menjajakan ‘barang apapun’ sepanjang barang-barang tersebut laku dijual dan dibutuhkan warga. Bagi desa yang mendekati atau terletak di wilayah kota (urban), lokasi wisata, pusat pemerintahan dan tempat keramaian warga lainnya, lapangan di desa memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Selain karena fungsi menghimpun warga dan aktifitas olahraga lainnya, fungsi lain yang bisa dikembangkan adalah potensi pengembangan ekonomi dan pariwisata murah, warga bisa menjual cinderamata, makanan minuman ringan, sarana hiburan, perlengkapan kegiatan, parkir, dan kegiatan ekonomi lainnya. Warga bisa berkontribusi dalam mengisi dan menjaga lapangan sepak bola. Namun demikian, jangan juga jadikan lapangan sepak bola terlalu dikomersilkan tanpa mengindahkan aspek sosial. Perlu ada proporsi aspek sosial yang harus dijaga oleh warga dan aparatur desanya agar kultur dan semangat warga desa bisa terus dipelihara. Kegiatan keagamaan, budaya desa, kerja bakti, peringatan hari besar nasional dan kegiatan sosial lainnya bisa menjadi kegiatan sosial yang akan mengisi fungsi lapangan bisa tetap di jaga. Perangkat dan warga desa memiliki andil dalam menjaga dan memelihara lapangan sepak bola. Setidaknya desa harus punya aturan main menyangkut peruntukkan dan penggunaan lapangan sepak bola. Berapa kontribusi yang bisa dihasilkan, tata kelola petugas yang menjaga dan memelihara, kebersihan, kegiatan-kegiatan yang bisa dilaksanakan, memilah kegiatan yang menghasilkan kontribusi dan sosial, sampai rencana peruntukkan jika kontribusi ikut menyumbang pendapatan desa. Sehingga selain tujuan menyehatkan masyarakat, lapangan sepakbola juga bisa ikut mensejahterakan warganya. Mari berolahraga...