Expressed Emotion pada Keluarga Penderita Gangguan Jiwa ISSN : 0854 – 7108 Buletin Psikologi, Tahun XII, No. 2, Desember 2004 85 EXPRESSED EMOTION PADA KELUARGA PENDERITA GANGGUAN JIWA Nida Ul Hasanat PENDAHULUAN Sebagian besar waktu kehidupan seseorang berada bersama dengan keluarga. Namun tidak dapat dipungkiri, tidak seluruh keluarga dapat memberikan atau menciptakan lingkungan yang mendukung. Dalam banyak kasus, keluarga bahkan berpotensi untuk menjadi sumber timbulnya tekanan psikologis. Sayangnya, penelitian tentang pengaruh keluarga terhadap munculnya gangguan jiwa mempunyai kendala, karena belum ada cara yang paling tepat untuk mengidentifikasi individu-individu yang rentan, yang kemudian memunculkan simtom gangguan jiwa. Akibatnya, penelitian yang dilakukan bersifat retrospektif, dimulai pada saat seseorang mengalami gangguan (untuk yang pertama kali atau pada saat ‘kambuh’), kemudian menelusuri perjalanan gangguan atau bersifat cross-sectional (Leff & Vaughn, 1985). Sebagai salah satu contoh, penelitian Vaughn & Leff (dalam Leff & Vaughn, 1985) yang meneliti pengaruh sikap keluarga terhadap kondisi klinis pasien skizofrenia menemukan, bahwa Expressed Emotion (EE) merupakan prediktor terbaik untuk menentukan apakah pasien akan kambuh atau tidak selama periode 9 bulan follow-up. Expressed Emotion ini ditemukan peneliti pada saat wawancara ketika pasien pertama kali masuk rumah sakit. Tulisan ini akan memberikan gambaran tentang EE dalam keluarga penderita gangguan jiwa (terutama skizofrenia), sebagai bagian dari hubungan emosional antara penderita atau pasien dengan keluarga dan atau anggota keluarga, yang terbukti merupakan faktor yang mempengaruhi perjalanan gangguan yang dialaminya. Tulisan ini juga sekaligus ingin memberikan tambahan informasi mengenai kajian expressed emotion dalam bidang psikologi, yang sepengetahuan penulis belum banyak dibicarakan, meskipun dalam bidang psikiatri justru sangat luas mendapat perhatian (Jenkins, dalam Subandi, 2004).