“Solo Menari 24 Jam: Seni, Ruang Publik, dan Konsumsi Seni Masyarakat” Algonz Dimas B. Raharja 1 I. Solo Menari 24 Jam Solo Menari 24 Jam merupakan agenda seni tahunan yang diselenggarakan oleh Institut Seni Indonesia Surakarta bekerjasama dengan Pemerintah Kota Surakarta sejak tahun 2007.Jika pada tahun-tahun sebelumnya dimulai sekitar pukul 06.00 WIB tahun ini lebih berbeda karena dimulai pukul 16.10 WIB hari Kamis, 28 April 2016. Pada pergelaran kesepuluh ini terdapat dua orang penari 24 jam yaitu Samsuri dari Surakarta dan Mudjo Setiyo dari Jakarta. Samsuri sendiri merupakan salah satu staf pendidik di Institut Seni Surakarta, sedang Mudjo Setiyo merupakan salah seorang anggota grup Wayang Orang Bharata Jakarta. Mereka berdua menari selama 24 jam dengan pola berpindah- pindah dari panggung ke panggung yang berada di kawasan ISI Surakarta. Penampilan silih berganti ini ditutup oleh tari kontemporer kedua penari ini beserta puluhan penari putrid selama 30 menit. Sebelumnya mereka menyelesaikan tari individu mereka masing-masing dengan fragmen Ramayana dengan mengangkat kisah pergumulan Sugriwa dan Subali oleh Samsuri, kemudian dilanjutkan dengan tari tradisi teatrikal oleh Mudjo dengan judul“SatrioPiningit”. Dalam pertunjukan terakhir Mudjo itu sempat drop di sisi panggung ketika kurang 30 menit lagi pergelaran 24 jam itu berakhir. Menurutku setelah empat tahun menonton Solo Menari 24 Jam ya kali ini lebih berani dengan adanya tarian modern macam hip-hop dan juga beberapa tari tradisional yang dibalut pesan modern seperti yang dibawakan mahasiswaku. Selebihnya, tahun ini pertunjukan menjadi lebih mengedepankan teatrikal daripada tari saja. Hal ini menurut Saya adalah sebuah kemajuan.”(Wawancara dengan Yoyok Yeremia, 51 tahun, staf pengajar PGSD di Universitas Negeri Surabaya) 1 Mahasiswa Antropologi Universitas Gadjah Mada