Jurnal Tingkat Sarjana bidang Senirupa dan Desain MUSEUM SEJARAH KULINER TRADISIONAL INDONESIA Nawangwulan Nitisuari Dr. Prabu Wardono M.Des., Ph.D. Program Studi Sarjana Desain Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB Email: nawangwulannitisuari@yahoo.com Kata Kunci : museum, kuliner, tradisional, budaya, desain, interior Abstrak Kuliner adalah hasil budaya yang erat kaitannya dengan masyarakat Indonesia, namun wawasan budaya kuliner belum dikenal baik oleh masyarakat. Persoalan tersebutlah yang melatarbelakangi perancangan museum yang bertujuan untuk menginformasikan wawasan mengenai kuliner tradisional Indonesia. Penelitian dilakukan dengan pengumpulan data kuantitatif sebagai tinjauan teknis perancangan dan informasi tentang kuliner tradisional Indonesia, dan pengumpulan data kualitatif sebagai referensi tambahan. Data yang terkumpul dianalisa untuk mengidentifikasi masalah. Permasalahan yang diidentifikasi kemudian diselesaikan dengan pembuatan programming dan konsep desain menyeluruh yang paling sesuai untuk diterapkan dalam fasilitas ini. Proses pengembangan pada desain berdasarkan pada topik kuliner yang menjadi dasar dari konsep keseluruhan. Abstract Culinary is one of the cultural artifacts that closely related to Indonesian society, but the knowledge itself is not well known to the modern society. The issue is exactly behind the design of the museum aims to inform knowledge of traditional Indonesian culinary. The study was conducted with quantitative data collection as technical design reviews and information on traditional Indonesian culinary itself, and qualitative data collection as additional references. The data were analyzed with the aim of identifying the problems encountered in terms of design. The identified problems then solved by making a programming and overall design concept that most applicable in this facility. The design development process based on culinary topics that form the basis of the overall concept. 1. Pendahuluan Indonesia adalah negara yang multikultural dan terdiri dari ribuan pulau yang membentang di garis khatulistiwa. Negara ini beriklim tropis dan secara geografis terletak strategis diapit oleh dua benua dan dua samudra. Indonesia terletak tepat diantara pertemuan lempeng Eurasia dan Indo-Australia. Hasilnya garis melintang yang dipenuhi oleh jajaran gunung berapi yang menyebabkan tanah subur yang menjadi faktor utama dalam beragamnya dan pesatnya perkembangan pertanian Indonesia, baik deri segi makanan pokok, beras, hingga rempah-rempah. Letak geografis yang strategis membuat negara ini kaya akan hasil alam, terutama dari bahan makanan. Dari segi agrikultural, tanah subur Indonesia menghasilkan hasil pangan yang unik hingga menjadi incaran warga asing yang rela mengorbankan apapun untuk memonopoli bahan pangan hasil pertanian di Indonesia pada di era eksplorasi kolonial abad pertengahan. Hasil laut juga menjadi komoditas yang tinggi karena letak strategis diapit dua semudera lautan Indonesia kaya akan beragam jenis fauna dan flora. Pembentukan budaya dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Faktor internal mempengaruhi cara hidup masyarakat dalam beradaptasi dengan lingkungan yang mereka tempati. Sedangkan faktor eksternal mempengaruhi dari segi penerapan nilai-nilai dalam berbagai aspek kehidupan. Kuliner adalah salah satu hasil budaya yang erat kaitannya dengan masyarakat. karena selain dari fungsi utama bahan makanan sebagai pemenuhan kebutuhan pokok, kuliner juga memiliki nilai-nilai sejarah bahkan filosofis. Kuliner yang authentik adalah salah satu jenis kreativitas masyarakat dalam mengolah bahan pangan serta menambahkan nilai budaya Budaya kuliner tradisional, sama seperti halnya artefak kebudayaan Indonesia lainnya, penting untuk dijaga kelestarian authentiknya. Sayangnya, nilai falsafah kebudayaan itu kurang terjaga, terbukti dari minimnya pelestarian dan pembakuan yang membuat kebudayaan seolah masih mencari bentuk. Hasil-hasil budaya lokal Indonesia tidak terdokumentasikan dengan baik, sehingga masyarakat Indonesia sendiri mengalami kesulitan dalam mempelajari budaya sendiri. Ditambah lagi dengan globalisasi melalui media mempengaruhi sudut pandang masyarakat modern terhadap kebudayaan lokal, dan membuat sebagian masyarakat cenderung berkiblat pada budaya internasional. Terlebih, belum ada pemanfaatan media secara efektif dalam menyampaikan informasi mengenai wawasan budaya tradisional terutama dari nilai filosofisnya. Dampaknya, walaupun masyarakat Indonesia masih erat dengan kuliner nasional, sebagian besar