Artikel ini telah disampaikan dalam Temu Ilmiah Nasional Psikologi 2012 “Peran Psikologi dalam Mengelola Kesehatan Mental Masyarakat Indonesia”, Universitas Airlangga, 20-21 November 2012 PSIKOLOG DAN WARIA, ADA APA? Andrian Liem Fakultas Psikologi, Universitas Ciputra, Surabaya andrianliem88@gmail.com Waria atau transgender merupakan individu yang tidak nyaman dengan alat kelamin biologis maupun norma gender yang bertentangan dengan identitas gendernya. Bagi waria, tubuh laki-laki adalah “penjara” dan mereka berusaha untuk bebas dari “penjara” tersebut dengan mengondisikan tubuhnya menjadi tubuh perempuan. Stigma dan diskriminasi terhadap waria membuat mereka sulit untuk membuka diri sehingga menjadikannya fenomena gunung es. Akan tetapi menurut Dinas Sosial/Dinas Kesejahteraan Sosial hingga tahun 2008 waria di Indonesia berjumlah 11.049 orang. Waria, yang dianggap abnormal, digolongkan sebagai patologi sosial yang mengalami penyimpangan. Akibatnya timbul pandangan bahwa waria merupakan objek yang harus didisiplinkan dan dihukum sehingga diskriminasi terhadap waria dianggap sebagai bentuk eksklusi dari segala bentuk relasi sosial. Buktinya, Komnas HAM menerima sekitar 1.000 kasus penyiksaan terhadap waria setiap tahunnya. Diskriminasi terhadap waria, yang merupakan wujud dari transphobia dan menjurus pada pelanggaran HAM, menempatkan waria ke dalam lingkaran setan: pemiskinan-prostitusi-IMS. Ironisnya, psikopatologisasi waria merupakan produk dari psikologi dan psikiatri. Akan tetapi perubahan nama Gender Identity Disorder menjadi Gender Dysphoria dalam DSM V menegaskan bahwa saat ini transgender lebih cenderung menggambarkan kondisi seseorang, bukan sebagai sebuah gangguan. Psikolog sebagai professional helper sudah seharusnya berprinsip bahwa semua manusia memiliki hak asasi yang sama, termasuk waria. Maka jawaban dari “Psikolog dan Waria, ada apa?” adalah depatologisasi. Caranya melalui psikoedukasi pada masyarakat mengenai kondisi waria agar stigma dan diskriminasi terhadap waria dapat dihapuskan dan empati publik meningkat. Psikolog juga dapat memberikan pendampingan psikologis pada waria melalui penerimaan diri, mencegah internalisasi transphobia, meningkatkan harga diri, dan membantu proses resiliensi khususnya pada waria yang mengalami kekerasan. Kata kunci: waria, transgender, patologi sosial, gender dsyphoria, transphobia, HAM Waria or transgender are individuals who uncomfortable with biological genitalia and gender norms that conflict with gender identity. For waria, male body is a "prison" and they strive to be free from it with conditioning the body to the female body. Stigma and discrimination toward waria making them difficult to be opened, it makes iceberg’s phenomenon. However, according to the Department of Social Welfare until the year 2008 amounted to 11.049 transgender people in Indonesia. Transgender, which is considered abnormal, classified as having irregularities social pathology. As a consequences, arise the view that transgender is an object that must be disciplined and punished so the discrimination towards transgender is considered as the exclusion of all forms of social relations. The evidence, National Human Rights Commission received about 1.000 cases of torture toward waria every year. Discrimination against waria, which is a form of transphobia and lead to human rights violations, placing transgender into a vicious circle: the impoverishment-prostitution-sexual infection. Ironically, psychopathologization of transgender is a product of psychology and psychiatry. However, “Gender Identity Disorder” changes into Gender Dysphoria in the DSM V is confirmed that waria are more likely to describe the condition of a person, not as a nuisance. Psychologists as a professional helper should hold the principle that all human beings have the same rights, including waria. So, the answer to "Psychologists and Transgender, What The Matter?" is depathologization. The way is through psychoeducation to the public about transgender condition in order to stigma and discrimination toward transgender can be eliminated and increase public empathy. Psychologists can also provide psychological assistance to waria through self-acceptance, preventing internalization transphobia, increase self esteem, and help the process of resilience especially waria who got violence. Key words: waria, transgender, social pathology, gender dsyphoria, transphobia, human rights