Analisis Pengaruh…(Rita R) 87 ANALISIS PENGARUH KARAKTERISTIK WILAYAH (KELURAHAN) TERHADAP BANYAKNYA KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI KOTA SEMARANG Rita Rahmawati 1 , Kartono 2 , Robertus Heri Sulistyo 2 , Betha Noranita 3 , Eko Adi Sarwoko 3 , Asep Yoyo Wardaya 4 1 Staf Pengajar Jurusan Statistika FSM Universitas Diponegoro 2 Staf Pengajar Jurusan Matematika FSM Universitas Diponegoro 3 Staf Pengajar Jurusan Informatika FSM Universitas Diponegoro 4 Staf Pengajar Jurusan Fisika FSM Universitas Diponegoro Abstract DBD still become one of the major problems of public health in Indonesia because the death rate tended sufferers to increase from year to year. Incredible happening (KLB) of DBD which was initially occurring every five years, now it’s getting often happens. In the city of Semarang, during 2009 occurring 165 times KLB in urban village, 35 times KLB in the level of community health centers and 15 times KLB at the district level. Though the number of DBD cases in 2009 from 2008 was declining, but in this year also noted that the number of deaths resulting from DBD increased to 43 people from 18 people in 2008. This research aims to analyze the characteristics of the neighborhood (whose data is always updated by BPS via PODES) that affect the number of cases of DBD (whose data is always updated by DKK) in Semarang city, by creating the best regression models using stepwise technique. Regression model analysis of results obtained best is Y = 23.029 + 0.004 X1 – 0.074 X2 + 0.070X3, where Y is IR/10000 PDDK, that is the number of residents affected by DBD for each 10000 inhabitants, X1 is the number of residents aged 15-24 years, X2 is total area of land of rice fields and X3 is area of land for buildings and grounds around the page. Keywords: DBD, Characteristics of the Neighborhood, Regression, Stepwise 1. Pendahuluan Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit yang sering menimbulkan wabah dan menyebabkan kematian. Penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aides aegypti ini masih menjadi salah satu masalah utama kesehatan masyarakat di Indonesia karena angka kematian penderitanya cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit DBD yang semula terjadi setiap 5 tahun, kini semakin sering terjadi. Tahun 2004, kasus DBD menjadi KLB di 12 provinsi dengan jumlah penderita 79462 orang dan 957 diantaranya meninggal. Awal tahun 2007, kembali terjadi KLB di 11 provinsi di Indonesia. Jumlah kasus DBD 2007 hingga Juli 2007 tercatat sebanyak 102175 kasus dengan jumlah kematian mencapai 1098 jiwa [2] . DBD di Indonesia mulai dikenal pada tahun 1968 di Surabaya dengan jumlah penderita 58 orang dan kematian 24 orang (41.3%). Penyakit ini menyebar ke seluruh wilayah Indonesia, sehingga pada tahun 1980 seluruh provinsi di Indonesia telah terjangkit penyakit ini. Banyak upaya untuk memberantas perkembangan penyakit ini telah dilakukan, yang mengarah pada pembatasan gerak dan populasi nyamuk sebagai vektor DBD pada manusia, diantaranya program yang paling sering dikampanyekan yaitu program 3M (menguras, menutup dan mengubur). Kegiatan pokok pemerintah dalam pemberantasan DBD tidak hanya meliputi penemuan kasus, pengobatan bagi penderitanya