Prosiding Seminar Nasional Teknologi Pengelolaan Limbah VII Pusat Teknologi Limbah Radioaktif-BATAN ISSN 1410-6086 Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi-RISTEK PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF DI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR 1000 MW Husen Zamroni, Endang Nuraeni, Jaka Rachmadetin Pusat Teknologi Limbah Radioaktif-BATAN ABSTRAK PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF CAIR PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR 1000 MW. Kebanyakan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) menyediakan tempat sistem pengumpulan dan penyimpanan limbah untuk menangani limbah selama operasi reaktor. Bermacam teknik dan teknologi reduksi volume diterapkan dengan baik pada PLTN. Limbah radioaktif cair yang dilepas ke lingkungan harus sangat rendah dan lebih rendah dari batas yang ditentukan oleh badan regulasi. Limbah cair diolah dengan cara evaporasi, penukar ion, membarn dan pengendapan selanjutnya konsentrat disimpan dalam penyimpanan sementara. Sludge limbah radioaktif dikumpukan dalam tangki koleksi, tangki sedimen dan sumpit. Konsentrat evaporator bersama dengan resin bekas dari pengolah pendingin reaktor di simpan dalam tangki stainless steel dalam gedung bantu. ABSTRACT LIQUID RADIOACTIVE WASTE MANAGEMENT AT NUCLEAR POWER PLANT 1000 MW. Most of the NPP generally were provided with waste collection and storage systems to accommodate lifetime arising of NPP operation. Source reduction techniques and technologies are well known and implemented to varying degrees at most nuclear plants. Liquid radioactive releases into the environment were to be kept very low, generally significantly lower than regulatory guidelines. Liquid waste was treated by evaporation, ion exchanger, membrane reverse osmosis and precipitacion furthermore concentrates were stored at the interim storage. Radioactive sludges exist mainly in drain collection and sedimentation tanks or sumps. The evaporator concentrates, together with spent ion exchange resins from coolant treatment, were planned to be stored in stainless steel tanks in the auxiliary buildings PENDAHULUAN Pertumbuhan industri yang semakin meningkat di seluruh dunia mengakibatkan kebutuhan energi listrik meningkat secara drastis. Selama ini untuk memenuhi kebutuhan energi listrik masih banyak negara yang menggunakan bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil saat ini mulai menimbulkan dampak yang cukup serius antara lain pencemaran udara yang semakin meningkat, efek rumah kaca, hujan asam, tantangan untuk menurunkan emisi gas CO 2 dan cadangan bahan bakar fosil yang semakin menurun, akhirnya memaksa semua orang mulai melihat kelebihan dan keuntungan penggunaan PLTN. Tentu saja peningkatan jumlah pembangunan PLTN ini tidak hanya karena efek yang ditimbulkan pembangkit berbahan bakar fosil tetapi juga disebabkan biaya pembangunan PLTN yang semakin kompetitif dan dari segi keselamatan yang semakin baik. Sejak tahun 1970 perkembangan industri nuklir untuk kerperluan damai dan kesejahteraan manusia berkembang sangat pesat di seluruh dunia. Pemanfaatan energi nuklir di Indonesia juga mulai mejadi perhatian Pemerintah yang tertuang dalam kebijakan energi nasional Indonesia tercantum dalam Peraturan Presiden nomor 5 tahun 2006. Dalam Keppres tersebut disamping energi yang sudah ada tercantum juga peran energi baru dan terbarukan lebih besar dari 5%. Yang dimaksud energi baru dan terbarukan adalah biomass, nuklir, tenaga air skala kecil, matahari dan angin. Diharapkan pada tahun 2025 peran energi nuklir secara keseluruhan ditargetkan bisa memasok energi nasional sebesar 2% [1] . Peran energi nuklir tersebut diharapkan dapat dimulai dengan pembangunan PLTN I di Indonesia rencanaya akan mulai beroperasi pada tahun 2016. Pembangunan PLTN berikutnya berturut-turut dilakukan tahun 2017, 2023, dan 2024, sehingga pada tahun 2025 PLTN sudah bisa memasok energi nasional sebesar 4000 MW. Namun dalam setiap pembangunan PLTN dimanapun hal yang penting tidak pernah ketinggalan adalah mengenai adalah masalah pengelolaan limbah radioaktif. 39