Indonesia Gudangnya Para Wali Allah Oleh: Labib Syarief “Saat saya ke Eropa, banyak mahasiswa di sana sedang menggandrungi pemikiran Ibnu Rusyd, atau dengan kata lain, para pemuda di sana sedang banyak mempelajari spiritualisme. Namun saya heran dengan Indonesia, Indonesia itu gudangnya Mursyid tetapi hanya pemuda/mudi kita sedikit yang mempelajarinya” ujar KH Wahfiuddin Sakam salah satu wakil talqin Tarekat Qadariyyah wa Naqsabandiyyah (TQN) Suryalaya dalam memberikan materi di sebuah acara di Masjid Fathullah Ciputat pada Mei 2016. Pernyataan tersebut juga senada dengan pernyataan Ketua Jami‟yah Ahli Thariqah al-Mu‟tabarah an- Nahdliyyah (JATMAN), Habib Lutfhi bin Yahya, yang menyatakan bahwa “Dari Aceh hingga Banyuwangi, Indonesia dipagari oleh para wali ” Bahkan di lain waktu beliau juga menyatakan “Indonesia adalah gudangnya para wali nomor 2 di dunia setelah Hadramaut”. Sebagaimana diketahui bahwa wali merupakan singkatan waliyullah yaitu orang yang menerima limpahan karunia dari Allah swt karena ketinggian mutu ketakwaaan mereka kepada Allah swt, dan totalitas pengabdian seluruh hidupnya demi kebesaran Allah swt dan mengharap keridhaan-Nya (PWNU Lampung, 2016) Pernyataan KH. Wahfiuddin Sakam dan Habib Lufhi bin Yahya terkait para wali yang hidup berada di Indonesia memanglah benar. Islam menjadi agama mayoritas di Indonesia bukanlah secara tiba-tiba. Namun berdasarkan proses yang panjang, dan atas jasa besar yang diperjuangkan oleh para ulama, habaib dan para wali sejak pertama kali Islam tiba di nusantara. Habib Lutfhi berpendapat bahwa ulama yang masuk ke nusantara sudah terjadi sejak abad 1-2 H, ialah Maulana Jamaluddin Husein yang tinggal di Pasai. Sedangkan pada era Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) dan Maulana Ibrohim Asmoroqondi (ayah Sunan Ampel) telah terdapat 90 pimpinan ulama yang disebut al-Maghrobi. Di mana lebih dari 400 ulama yang dipimpin oleh ulama al-Maghrobi tersebut tersebar di seluruh Indonesia (Elyamani, 2016). Sehingga atas jasa mereka, kita mendapatkan kenikmatan dari Allah swt yang agung, yaitu mendapatkan dan merasakan nikmat Iman dan Islam di Indonesia. Apalagi Islam yang diajarkan oleh para ulama, habaib dan para wali di Indonesia ini juga adalah Islam yang Rohmatalillaalamin. Sebab secara esensi mereka telah menerapkan praktik akhlakul karimah Rasulullah. Tetapi dengan metode dakwah yang menyesuaikan kondisi pada masyarakat saat itu. Maka Islam dengan mudahnya tersebar dan diterima oleh masyarakat nusantara, baik golongan kerajaan atau kesultanan, maupun rakyat nusantara itu sendiri. Selain itu, untuk lebih jelasnya berikut ini beberapa para ulama, habaib dan para wali di Indonesia yang dimaksudkan oleh Habib Lutfhi bin Yahya dan KH. Wahfiuddin Sakam: 1. Wali Songo Wali Songo atau sembilan wali merupakan tokoh penyebar Islam di Indonesia khususnya di Pulau Jawa. Mereka adalah: 1) Sunan Gresik (Syekh Maulana Malik Ibrahim), makamnya di Gresik. 2) Sunan Ampel (Sayyid Ahmad Rahmatullah), makamnya berada di Surabaya. 3) Sunan Bonang (Raden Makhdum Ibrahim), makamnya berada di Tuban. 4) Sunan Drajat (Raden Qasim), makamnya berada di Lamongan. 5) Sunan Kudus (Syekh Ja‟far Shadiq), makamnya berada di Kudus. 6) Sunan Giri (Raden Paku), makamnya berada di Gresik. 7) Sunan Kalijaga (Raden Mas Sahid), makamnya berada di Demak. 8) Sunan Muria (Raden Umar Said), makamnya berada di Kudus. 9) serta Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah), makamnya berada di Cirebon (Irawan, 2016). 2. Syekh Nuruddin Ar-Raniry Nur al-Din Muhammad Ibn „Aki Ibn Hasanji Ibn Muahammad Ar-Raniry atau biasa disebut Syeikh Nurrdin Ar-Raniry adalah tokoh tasawuf terkenal di Aceh yang lahir di daerah Ranir (Rander) yang terletak dekat dengan Gujarat (India). Ia belajar di tempat kelahirannya, dan kemudian belajar ke Tarim (Arab Selatan, Yaman). Selanjutnya ia datang ke Aceh pada