WARTONO ET AL.: AGEN PENGENDALI HAYATI PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI PADA PADI 21 Efektivitas Formulasi Spora Bacillus subtilis B12 sebagai Agen Pengendali Hayati Penyakit Hawar Daun Bakteri pada Tanaman Padi Wartono 1 , Giyanto 2 , dan Kikin H. Mutaqin 2 1 Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian Jl. Tentara Pelajar 3A Bogor 16111 Email: war.tono@yahoo.com 2 Institut Pertanian Bogor Jl. Dramaga Bogor Naskah diterima 13 Januari 2014 dan disetujui diterbitkan 1 September 2014 ABSTRACT. Effectiveness of Bacillus subtilis B12 Spore Formulation as Biocontrol Agent for Bacterial Leaf Blight on Rice. Bacterial leaf blight control in rice (Oryza sativa Lin.) using bactericide is prohibitive, due to its high cost and its negative effect on the environment. Biocontrol when avaible, therefore is the best alternative solution. Bacillus subtilis is a perspective of biocontrol agent to control several plant diseases, because of its ability to produce antimicrobial and produce plant growth promoting substances. This research was aimed to examine the effectiveness of B. subtilis spore formulation by way of seed treatments and foliar sprays, using different frequencies and concentrations, to control bacterial leaf blight disease (BLB) on rice, caused by Xanthomonas oryzae pv. oryzae, and to evaluate its function as plant growth promoter. The experiments were conducted at greenhouse and in the field using factorial design. At the greenhouse experiment, seed treatment and foliar spray, using concentration of 2% produced better result in controlling BLB, and better result on promoting rice plant growth. In the field experiment, application at 2 week interval showed better effect on suppressing the the disease and on increasing yield. Applications of the formulation of B. subtilis B12 spore reduced BLB disease by 21% and potentially increased yield up to 50%. Keywords: Rice, B. subtilis, Xanthomonas oryzae, formulation. ABSTRAK. Pengendalian penyakit hawar daun bakteri pada padi, tidak layak untuk dikendalikan menggunakan bakterisida, karena harganya yang mahal dan dampak negatif terhadap lingkungan. Salah satu alternatif pengganti adalah pengendalian secara hayati. Bacillus subtilis adalah salah satu agen biokontrol untuk mengendalikan penyakit karena kemampuannya dalam menghasilkan antimikroba dan memacu pertumbuhan tanaman. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui keefektifan formulasi spora B. subtilis isolat Indonesia melalui perlakuan benih dan semprot tanaman pada konsentrasi dan frekuensi yang berbeda untuk mengendalikan penyakit hawar daun bakteri (Xanthomonas oryzae pv. oryzae). Pengaruh lain dari aplikasi formulasi spora B. subtilis dilihat dari pertumbuhan tanaman. Penelitian dilakukan di rumah kaca dan lapangan dengan rancangan faktorial. Pada pengujian rumah kaca, perlakuan benih dan aplikasi/ penyemprotan tanaman dengan konsentrasi 2% memberikan hasil yang lebih baik dalam menekan penyakit HDB dan meningkatkan pertumbuhan tanaman padi, sehingga dapat direkomendasikan pada pengujian lapang. Pada pengujian lapang, interval aplikasi 2 minggu sekali memberikan pengaruh yang lebih baik dalam menekan penyakit dan meningkatkan hasil panen. Aplikasi formulasi spora B. subtilis dapat menekan penyakit HDB hingga 21% dan berpotensi meningkatkan hasil panen hingga 50%. Kata kunci: Padi, B. subtilis, Xanthomonas oryzae, formulasi. H awar daun bakteri (HDB) merupakan salah satu penyakit penting tanaman padi yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo). Xoo menyerang semua fase tumbuh tanaman padi, mulai persemaian hingga malai dan biji. Gejala penyakit yang terjadi pada daun muda disebut kresek, sedangkan gejala yang timbul pada tanaman mencapai stadia anakan sampai pemasakan disebut hawar. Kresek merupakan gejala yang paling merusak dari penyakit HDB, sementara gejala yang paling umum dijumpai adalah gejala hawar (IRRI 2008). Xoo tersebar di Asia, Afrika, Australia, Amerika Utara, Amerika Tengah dan Karibia, Amerika Selatan, serta Oseania. Namun bakteri ini paling banyak terdapat di Asia dan sebagian Afrika Barat, terutama di India, Cina, dan Indonesia, dimana populasinya telah tersebar luas hingga mewabah (Nino-Liu et al. 2006). Bakteri Xoo memiliki beberapa ras berdasarkan virulensinya. Di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DIY, ras yang paling dominan adalah ras VIII, diikuti oleh ras IV dan III (Suparyono et al . 2004). Di Indonesia, penyebaran penyakit ini meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2004, pertanaman padi yang terinfeksi HDB mencapai 37.229 ha, meningkat 31,8% dari tahun sebelumnya yang hanya 25.403 ha (Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan 2005). Penyakit HDB dapat menurunkan hasil 7,5-23,8% pada musim kemarau dan 20,6-35,6% pada musim hujan (BBPOPT 2007). Pada kondisi ambang penyakit mencapai 20%, setiap peningkatan keparahan penyakit 10% akan meningkatkan kehilangan hasil 4-6% (Suparyono et al. 2003).