227 Memikirkan Kembali Arti Million Friends Zero Enemy dalam Era Paradox of Plenty Ziyad Falahi Indonesia for Global Justice, Jakarta ABSTRACT Artikel ini berupaya menggambarkan bagaimana sejuta teman nol musuh menjawab tantangan hari ini, “mengarungi samudera bergejolak”. Ketika dunia menjadi saling ketergantungan, maka kerjasama menjadi faktor utama untuk selamat dari turbulensi. Oleh karena itulah, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono optimis dengan kebijakan luar negeri ke segala arah, Indonesia akan dengan aktif mencari ikatan yang erat dengan negara di seluruh penjuru dunia. Akan tetapi, tanpa arah yang pasti, Indonesia terancam kehilangan jatidiri. Bahkan interdependensi tersebut mendorong Indonesia untuk melawan independensinya sendiri. Terlebih, dalam era Paradox of Plenty ketika informasi menjadi tidak terkendali, maka pemerintah di Indonesia harus siap menghadapi serangkaian kontroversi . Kata-Kata Kunci: sejuta teman tanpa musuh, kebijakan luar negeri, jatidiri, interdependensi, dan paradox of plenty. This article try to describe how million friends zero enemy address today’s challenge,”navigating a turbulent ocean”. When the world became more interdependence, cooperation became a main factor to survive from the turbulences. Therefore, President Susilo Bambang Yudhoyono optimistic by all direction foreign policy, Indonesia will actively seek to raise to a higher level existing ties with countries in all corners of the globe. But, without a certain direction, Indonesia threatened lost of identity. Even the interdependence push Indonesia to againts his own independence. Moreover, in the era of paradox of plenty when information became uncontrolled, Indonesia government shall be ready to face several controversy. Keywords: million friends zero enemy, foreign policy, identity interdependence, and paradox of plenty.