Pengaruh Efek Samping Kemoterapi Terhadap Harga Diri Penderita Kanker Payudara di RSUP. H. Adam Malik Medan Tahun 2012. Janno Sinaga * Eva Kartika Hasibuan ** Novi Setia W*** Abstrak Kemoterapi merupakan salah satu pengobatan pada pasien kanker. Efek samping kemoterapi dapat menyebabkan rasa mual, muntah, rambut gugur, perubahan warna kulit, perubahan bentuk tubuh, dan kelemahan. Keadaan ini dapat menimbulkan penilaian negatif terhadap diri sendiri dan menjadi tidak percaya diri menurunkan harga diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh efek samping kemoterapi terhadap harga diri penderita kanker payudara di RSUP. H. Adam Malik Medan Tahun 2012, dengan pendekatan cross sectional, dan sebanyak 47pasien kanker yang menjalani kemoterapi menjadi responden dengan tehknik pengambilan accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 85,1% responden mengalami efek samping kemoterapi berat dan 53,2% memiliki harga diri rendah. Hasil uji statistik dengan Chi Square menunjukkan ada pengaruh yang signifikan efek samping kemoterapi terhadap harga diri penderita kanker di RSUP H Adam Malik Tahun 2012. Saran penelitian ini agar keluarga terdekat dan perawat/ tenaga kesehatan memberikan dukungan yang positif terhadap pasien kanker yang sedang menjalani kemoterapi, dengan melibatkan pasien dalam berbagai aktivitas sosial dan komunikasi efektif. Kata kunci : Kanker Payudara, Efek Samping Kemoterapi, Harga Diri. PENDAHULUAN Kanker payudara merupakan kanker yang paling sering terjadi dibeberapa negara dan penyebab kematian terpenting bagi wanita. Kanker leher rahim menempati urutan pertama dan kanker payudara menempati urutan kedua. Dibawah usia 30 tahun, kanker payudara sangat jarang terjadi. Sedangkan Pada wanita usia ≥ 30 tahun keatas dan sudah terlebih dahulu terjangkit kanker payudara memiliki resiko tinggi (Jong, 2004). Penyebab pasti kanker payudara hingga saat ini belum diketahui, namun banyak faktor yang diperkirakan mempunyai pengaruh terhadap terjadinya kanker payudara antara lain wanita yang berusia 25 tahun keatas, wanita yang belum menikah usia 35 tahun, siklus menstruasi tidak teratur, terpapar radiasi, riwayat keluarga dan masih banyak faktor-faktor lain yang terkait dengan gaya hidup (Hawari, 2004). Pengobatan kanker yang dilakukan antara lain kemoterapi, radiasi dan pembedahan. Menurut Lubis & Hasnida (2009), salah satu pengobatan kanker payudara adalah kemoterapi yang bermanfaat mencegah dan mengurangi pertumbuhan sel kanker. Prinsip kemoterapi adalah pemberian sitostatika yang efektif dengan tingkat toksik yang minimal sampai sedang (Sukardja, 2000). Pemberian kemoterapi dapat melalui rute topikal, oral, intravena, intramuskular, subkutan, arteri, intrakavitasi, dan intratekal. Rute pemberian tergantung pada tipe obat, dosis yang dibutuhkan, jenis, lokasi, dan luasnya tumor yang diobati (Smeltzer & Bare, 2008). obat kemoterapi mempunyai target dan efek merusak sel yang berbeda dan tergantung pada siklus selnya (Sukardja, 2000). Obat kemoterapi aktif pada sel yang sedang membelah dan bereproduksi, sehingga sel tumor yang aktif merupakan target utama dari kemoterapi. Namun, sel yang normal tidak tertutup kemungkinan akan terpengaruh kemoterapi. Karena sel normal juga aktif bereproduksi. Sehingga yang akan muncul adalah efek samping dari obat kemoterapi (Diananda, 2009). Dari data Medical Record Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Tahun 2012, jumlah pasein yang menderita kanker payudara ada sebanyak 1.305 orang dan pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi ada sebanyak 540 orang Pengobatan kemoterapi pada umumnya diberikan sesuai siklus jenis kanker. Meskipun ada perbedaan siklus antara jenis kanker yang satu dengan kanker lainnya, jarak antar siklus pada