Konferensi Nasional Sistem Informasi (KNSI) 2015 Universitas Klabat Institut Teknologi Bandung PRINSIP PARADIGMA AGEN DALAM MENJAMIN KEBERLANGSUNGAN HIDUP SISTEM Aradea 1 , Iping Supriana Suwardi 2 , Kridanto Surendro 3 1 Teknik Informatika, Fakultas Teknik, Universitas Siliwangi Tasikmalaya 2,3 Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung 1 aradea@unsil.ac.id, 2 iping@informatika.org, 3 endro@informatika.org Abstrak Setiap sistem memiliki siklus hidup yang akan menentukan keberlangsungan hidupnya. Hal ini sangat dipengaruhi oleh perubahan yang terjadi pada lingkungannya, dan bagaimana sistem tersebut dapat beradaptasi. Paradigm agen menawarkan suatu pendekatan, sebagai upaya menghindari berakhirnya hidup suatu sistem secara lebih cepat. Terdapat beragam metodologi yang dapat digunakan dalam pengembangan sistem berorientasi agen, beserta kelebihan dan kekurangannya. Ketepatan menspesifikasikan karakteristik kebutuhan dunia nyata dapat dijadikan target dalam menciptakan suatu konstruksi pendekatan yang sesuai bagi ketersediaan sistem yang berkualitas, termasuk dalam menjamin keberlangsungan hidupnya. Dalam makalah ini, dilakukan kajian dan analisis terhadap sejumlah pendekatan berbasis agen, untuk menentukan karakteristik yang dibutuhkan bagi terciptanya prinsip-prinsip dan pedoman pengembangan sistem. Permasalahan kasus sistem yang dibahas disini adalah kebutuhan pengembangan sistem manajemen pengetahuan. Pada akhir pembahasan kami mengusulkan suatu konsep, sebagai temuan awal untuk bahan diskusi dan penelitian lanjutan. Kata kunci : agen, multi-agent system, sistem adaptif, perubahan sistem, manajemen pengetahuan 1. Pendahuluan Suatu sistem akan dapat bertahan hidup, selama sistem tersebut dapat memenuhi kebtuhan penggunanya, namun jika tidak, maka hidup dari sistem tersebut telah berakhir. Hal ini senada dengan pendapat Nuseibeh [25], yaitu salah satu ukuran kesuksesan sebuah sistem adalah seberapa mampu sistem tersebut dapat memenuhi kebutuhan dari penggunanya. Pemenuhan kebutuhan pengguna sistem, berhubungan dengan sejauhmana komponen- komponen pembentuk sistem dipersiapkan untuk menjawab berbagi kemungkinan atas perubahan yang akan terjadi. Karena harus disadari bahwa lingkungan suatu sistem akan berubah sesuai siklus hidupnya, perubahan ini harus dikendalikan secara menyeluruh, dengan cara memasukan konsep kedalam evaluasi, analisis dan rancangan model [1]. Pendekatan sistem perlu mendefinisikan secara benar spesifikasi dan karakteristik dari sistem itu sendiri, entitas, layanan serta struktur pengetahuannya [20]. Selain itu, pengembangan suatu sistem perlu memperhatikan faktor waktu pengembangan dan fleksibilitas terhadap perubahan spesifikasi [33]. Paradigma agen sebagai metodologi rekayasa perangkat lunak, merupakan suatu pendekatan dalam upaya mengembangkan dan membangun sistem dengan menggunakan abstraksi berorientasi agen secara alamiah, dengan memodelkan sebuah sistem kompleks seperti dunia nyata. Suatu sistem kompleks dapat dipandang terdiri dari subsistem-susbsistem atau agen, interaksi agen-agen, atau berprilaku seperti agen-agen didalam suatu organisasi [17]. Metodologi ini menjanjikan kemampuan untuk membangun sebuah sistem secara sangat fleksibel [7]. Namun, untuk memperoleh manfaat dari berbagai kelebihan yang dimiliki agen tersebut, perlu dilakukan suatu skenario yang tepat, terutama penterjemahan dari kebutuhan sistem sesuai dengan kebutuhan jangka panjang. Pada makalah ini akan dibahas strategi dalam mendefinisikan suatu kebutuhan sistem manajemen pengetahuan, dimana komponen pembentuk sistem diperoleh dari hasil pendefinisian karakteristik dasar sistem, sehingga prinsip utama dari kebutuhan sistem dapat dijadikan pedoman untuk menentukan keberlangsungan hidup sistem yang berlaku secara umum. 2. Sistem Agen dan Multi Agen Terdapat beragam pendapat mengenai definisi dari istilah agen, namun semua definisi sepakat bahwa agen pada dasarnya adalah sebuah komponen perangkat lunak khusus yang otonom, dapat menyediakan antarmuka yang interoperable,