Prosiding Seminar Nasional “Inovasi Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi”, Banjarbaru 6-7 Agustus 2014 | 169 OPTIMALISASI LAHAN BEKAS PENAMBANGAN BATUBARA UNTUK PENGEMBANGAN PADI DI KALIMANTAN TIMUR M. Hidayanto, Yossita F. dan M. Chary Septyadi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Timur Jl. P.M. Noor-Sempaja, Samarinda, Kalimantan Timur e-mail: mhidayanto@yahoo.com ABSTRAK Lahan bekas penambangan batubara di Kabupaten Kutai Kartanegara cukup luas dan belum dimanfaatkan secara optimal untuk pengembangan tanaman pangan. Penelitian ini dilakukan di lahan bekas penambangan batubara di Kabupaten Kutai Kartanegara, pada kawasan pengembangan pertanian terpadu Kelompok Tani Ternak Mandiri Bersama pada tahun 2012. Pada lahan seluas 0,5 ha yang dikelola dengan konsep pengelolaan lahan dan tanaman terpadu (integrated crops land management) ramah lingkungan dalam upaya untuk mendapatkan produktivitas hasil tanaman yang tinggi dengan menggunakan pupuk organik, pupuk hayati dan pupuk kimia. Budidaya tanaman padi, pada tahun pertama penelitian ini (rencana selama 3 tahun) telah diujicobakan varietas towuti. Persiapan lahan 3-4 minggu sebelum tanam dengan cara mekanisasi (tracktor rotari) dan manual (dicangkul) bersamaan dengan pemberian pupuk organik kotoran ayam (600 kg/ha), pengapuran (400 kg/ha) dan penambahan pupuk hayati (20 kg/ha), kemudian dicampur rata lalu disebar secara merata keseluruh lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) produktivitas hasil padi towuti yaitu sekitar 6 ton/ha, (2) hasil panen padi towuti dari kawasan bekas penambangan batubara ini dapat diadobsi oleh masyarakat sekitar, (3) model pengelolaan lahan dan tanaman terpadu lahan bekas penambangan batubara potensial untuk pengembangan padi, khususnya mendukung swasembada beras di Kalimantan Timur. Kata kunci: optimalisasi, lahan bekas tambang, swasembada beras Pendahuluan Luas lahan di Kalimantan Timur yang dimanfaatkan untuk usaha pertambangan mencapai 4,4 juta hektare, terdiri dari 3,1 juta hektare untuk 1.212 izin usaha pertambangan (IUP) dan 1,3 juta hektare lahan untuk 33 IUP khusus (http://green.kompasiana.com/). Potensi bahan tambang di Kalimantan Timur (terutama batubara) cukup besar dan menyumbang 45,83% pendapatan daerah (BPS, 2009). Namun demikian sampai saat ini ribuan hektar lahan bekas penambangan batubara di daerah ini baik yang telah direklamasi maupun yang dibiarkan terlantar, belum memberikan manfaat kepada masyarakat di sekitar tambang, dan bahkan sebaliknya menimbulkan kerusakan lingkungan. Kalimantan Timur merupakan salah satu wilayah yang kaya akan lahan tambang, salah satunya adalah batubara. Kegiatan penambangan batubara di Kaltim umumnya dilakukan dengan teknik penambangan terbuka yaitu dengan membuka lahan, mengupas tanah lapisan atas (top soil), memindahkan tanah lapisan atas, dan selanjutnya menambang batubara. Teknik ini mengakibatkan kerusakan fisik, kimia dan biologis tanah, sehingga