JEMBATAN - Jurnal Ilmiah Manajemen Bisnis Dan Terapan Tahun IV No 1, April 2007 ANALISIS STRATEGI PEMASARAN TABUNGAN SHAR-E PADA PT. BANK MUAMALAT INDONESIA, Tbk. KANTOR CABANG PALEMBANG ZUNAIDAH* dan A NAZARUDDIN* DOSEN FE MANAJEMEN UNSRI ( * ) ABSTRAK Perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia semakin pesat setelah disetujuinya UU No. 10 Tahun 1998 Pasal 1 mengenai perbankan, dalam UU ini diatur dengan rinci landasan hukum serta jenis jenis usaha yang dapat dioperasikan dan diimplementasikan oleh bank syariah. UU tersebut didukung oleh peraturan pelaksanaannya berupa Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 32/34/KEP/DIR/1999 tentang Bank Umum berdasarkan prinsip syariah dan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 32/36/KEP/DIR/1999 tentang Bank Perkreditan Rakyat Indonesia berdasarkan prinsip syariah yang masing-masing tertanggal 12 Mei 1999. Oleh karena itu, jumlah Bank Syariah semakin meningkat. Sejak kehadirannya pada tahun 2004 di Palembang, jumlah nasabah Shar-e mengalami kenaikan yang cukup signifikan yakni sebesar 373% dalam kurun waktu dua tahun. Permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini adalah upaya-upaya apa saja yang selama ini telah dilakukan oleh PT. Bank Muamalat Indonesia, Tbk. Kantor Cabang Palembang untuk meningkatkan jumlah nasabah, dan variabel apa saja dalam bauran pemasaran yang dominan mempengaruhi keputusan nasabah dalam menggunakan tabungan Shar-e. Dengan menggunakan teknik analisis Multiple Regression Linier, diperoleh persamaan regresi dengan menggunakan metode Enter. Dari 8 (delapan) variabel independen (bebas), yaitu: produk, tempat dan waktu, proses, produktifitas dan kualitas, orang, promosi dan edukasi, bukti fisik dan harga dan biaya lainnya, ternyata hanya ada 1 variabel yang memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan nasabah dalam menggunakan tabungan Shar-e Bank Muamalat, yakni variabel proses. Keywords : Strategi Pemasaran, Perbankan Syariah, Tabungan Syariah. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Krisis moneter yang berawal pada tahun 1997 telah merusak sendi-sendi perekonomian bangsa Indonesia, krisis ini kemudian meluas menjadi krisis multidimensi yang merupakan kombinasi dari krisis ekonomi, politik dan sosial. Pertumbuhan ekonomi yang sebelumnya mencapai 7% di tahun 1997 anjlok 22% menjadi minus 15% pada tahun 1998 (Arifin 1999 : v). Perusahaan-perusahaan