POLA PENGLAJUAN PENDUDUK KOTA BATANG DAN PEKALONGAN oleh: Novida Waskitaningsih Abstract: Urbanization does not only take place in big cities and cause mega urban regions, but also takes place in small cities which linkages big cities. The later causes indistinguish difference between rural and urban regions, so it becomes an extended micro urban regions. This such kind of phenomenon also takes place in Batang and Pekalongan City which are included small cities between Cirebon and Semarang City. Those cities are located about 9 km each other from the city centre and passed by main way of transportation in Java. Based on that fact, the interaction among them is very high, where one of the interaction is reflected by its population movement, especially its population commuting that was happened everyday. Based on the result of this research, it is found that commuting pattern in both cities is home to work, and commuter is dominated by employee with 1-3 millions salary per month. The Batang and Pekalongan population commuting comes from residential to mix region with working purpose. Almost commuters have their own vehicles and use them to go to work. The commuting cost is relatively cheap and based on its commuting frecuency, more than a half of commuters are daily commuters. From the finding, it can be concluded that there is the same tendency commuting pattern between Batang and Pekalongan City population. It seems that there is such population exchanging among them to do their activities, but it does not affect urban productivities significantly. On the other hand, its high commuting population also indicates that the interaction and interdependency among them is very high. It is caused by the location which is close to each other and the difference of the two cities order which implies on the difference of urban facilities. The transportation infrastructure also has an important role on it. All of them make indistinguish difference between two cities and cause an urbanisation, so it is possible that it can form an extended micro urban regions in the future, which if it can not be overcame well, it will cause bigger multiplier effect. Keywords: urbanization, extended micro-urban regions, population commuting pattern PENDAHULUAN Urbanisasi di Indonesia pada umumnya terjadi di kota-kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan, yang pada umumnya masih menunjukkan adanya urban primacy, yaitu suatu kecenderungan mendominasinya suatu kota besar terhadap kota-kota/ daerah di belakangnya. Kota- kota tersebut dihubungkan oleh jaringan transportasi yang mendukung kegiatan di dalamnya, sehingga dalam perkembangannya kota-kota tersebut terkait satu sama lain. Adanya keterkaitan tersebut mengakibatkan terjadinya proses transformasi ruang dan sosio-ekonomik wilayah kota–kota kecil di sekitarnya sebagai akibat dari proses modernisasi dan industrialisasi kota-kota besar (inti), yang pada akhirnya mengakibatkan perkembangan kota-kota tersebut terkesan menyatu (Sugiana, 2005: 42). Menyatunya kota-kota tersebut pada akhirnya mengakibatkan terjadinya fenomena wilayah perkotaan yang sangat besar (mega-urban regions), seperti halnya yang terjadi di kota-kota megapolitan seperti Kota Jakarta dengan kota-kota kecil di sekitarnya (Jabodetabek), dimana kota megapolitan tersebut berperan sebagai inti (Firman dan Tjahjati, 2005). Fenomena urbanisasi yang mengakibatkan terjadinya proses transformasi ruang dan sosio- ekonomik wilayah juga terlihat pada wilayah desa-kota, yaitu wilayah yang berada di sepanjang koridor perkotaan yang menghubungkan kota-kota besar seperti koridor Serang-Jakarta-Karawang, Jakarta- Bandung, Cirebon-Semarang, Semarang-Yogyakarta, dan koridor Surabaya-Malang. Pada umumnya, kota-kota tersebut merupakan wilayah padat penduduk dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif cepat bila dibandingkan dengan wilayah pedesaan di belakangnya (Sugiana, 2005). Adapun kegiatan yang ada di dalamnya masih mencerminkan kehidupan pertanian, yang kemudian dengan adanya proses pengkotaan tersebut, berkembang sektor informal, sehingga terjadi percampuran yang dinamis dan intensif antara kehidupan desa dan kota. Oleh karena itu, pembentukan koridor-koridor perkotaan di antara kota-kota besar tersebut diwarnai oleh semakin kaburnya perbedaan antara wilayah perkotaan dan wilayah pedesaan, sehingga tercipta hubungan yang sangat erat antara keduanya (Firman, 2000). 1