Recovery besi dan titanium serta regenerasi asam dari larutan hasil pelindian konsentrat pasir besi dalam larutan asam klorida menggunakan metode distilasi Alfred Gurning a , M. Zaki Mubarok Program Studi Teknik Metalurgi, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha 10, Bandung, Indonesia 40132 a Email: alfred.gurning@gmail.com Abstrak Pasir besi merupakan komoditas mineral yang terdapat hampir di seluruh pulau-pulau besar di Indonesia. Selain besi, pasir besi juga mengandung titanium. Jalur hidrometalurgi melalui proses pelindian dalam asam klorida dan recovery Ti dan Fe dari larutan hasil pelindian merupakan salah satu metode untuk mengekstraksi besi dan titanium yang terdapat pada pasir besi. Pada paper ini dibahas hasil-hasil percobaan recovery besi dan titanium dari larutan hasil pelindian konsentrat pasir besi dari Bengkulu dengan metode distilasi, regenerasi asam klorida dan pemisahan serbuk TiO 2 dari besi dengan cara pelarutan kembali campuran presipitat hematit (Fe 2 O 3 ) dan rutil (TiO 2 ) dalam asam nitrat. Hasil penelitian menunjukkan distilasi larutan hasil pelindian konsentrat pasir besi (rasio Fe/Ti 10) dalam larutan HCl 8M dalam rentang suhu operasi 225-450 o C mengendapkan baik Fe maupun Ti masing-masing dalam bentuk hematit dan rutil. Percobaan distilasi pada suhu 225 o C dengan jenis umpan adalah larutan hasil pelindian dalam HCl yang dilakukan oksidasi dengan H 2 O 2 65wt%, menghasilkan presipitasi Fe terendah yaitu 29,99% dengan presipitasi Ti mencapai 97,63%. Dalam rentang suhu destilasi 225- 450 o C presipitasi Ti dalam bentuk TiO 2 mencapai >95%. Persentase regenerasi asam tertinggi diperoleh pada distilasi larutan HCl yang ditambahkan H 2 O 2 sebesar 77,3% pada suhu 335 o C yang menghasilkan presipitat hematit dan rutil dengan ukuran terkecil (537,5 nm). Pelindian kembali presipitat dalam larutan HNO 3 8M menghasilkan persentase pemisahan Fe dari Ti sebesar 84,6% dengan Ti yang ikut terlarut hanya 2,4%. Kata kunci: Pasir bes i, pelindian, distilasi, regenerasi asam, presipitasi. PENDAHULUAN Pasir besi merupakan sumber mineral besi dengan kuantitas terbesar di Indonesia selain besi laterit. Potensi dan sebaran dari pasir besi banyak dijumpai di berbagai daerah di Indonesia seperti Pantai Barat Sumatra, Pantai Selatan Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku dan Papua [1] . Komponen mineral utama dalam pasir besi di Indonesia umumnya adalah titanomagnetit (Fe 2 (FeTi)O 4 ), hematit (Fe 2 O 3 ) dan ilmenit (FeTiO 3 ). Berdasarkan kandungan mineralnya tersebut, maka pasir besi tidak saja dapat menjadi sumber bahan baku untuk memproduksi besi namun juga berpotensi menjadi sumber bahan baku untuk ekstraksi titanium.. Proses ekstraksi besi dan titanium dari konsentrat pasir besi dapat dilakukan baik dengan jalur pirometalurgi maupun hidrometalurgi. Pada proses peleburan konsentrat pasir besi, titanium yang terdapat dalam pasir besi akan terbawa ke dalam terak. Menurut Zhang, Zhu dan Cheng, (2011), proses ekstraksi Ti dari ilmenit dan terak dengan jalur hidrometalurgi dapat dilakukan dengan 4 metode, yaitu melalui pelindian dalam larutan asam sulfat, pelindian dalam larutan HCl, pelindian dalam larutan kaustik dan metode elektrokimia [2] . Olanipekum, (1999) [3] , telah mempelajari kinetika pelindian ilmenit dari Nigeria dalam larutan asam klorida, sementara Sasikumar, dkk. (2004) melaporkan hasil penelitian yang mempelajari pengaruh aktivasi mekanik pada pelindian ilmenit daalam larutan asam sulfat [4] . Fathia, (2015) [5] telah melakukan penelitian ekstraksi titanium dan besi dari konsentrat pasir besi dari Bengkulu dan menganalisis kinetika pelindiannya dalam asam klorida. Fathia, (2015), melaporkan bahwa pelindian konsentrat pasir besi dari Bengkulu dengan fraksi ukuran - 200+325 mesh dalam asam klorida 8M pada suhu 90 o C selama 8 jam menghasilkan ekstraksi titanium sebanyak 91,4% dengan besi yang ikut terlarut 80,7%.