- 9 -
Info Singkat
© 2009, Pusat Penelitian
Badan Keahlian DPR RI
www.pengkajian.dpr.go.id
ISSN 2088-2351
Vol. VIII, No. 22/II/P3DI/November/2016
KESEJAHTERAAN SOSIAL
Kajian Singkat terhadap Isu Aktual dan Strategis
Majalah
MEMOTIVASI MINAT BACA
Elga Andina*)
Abstrak
Kemampuan literasi memiliki peran fundamental dalam upaya bertahan hidup. Akan
tetapi, minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah. Kondisi ini tidak hanya
disebabkan rendahnya akses terhadap buku, namun juga karena tidak terbentuknya
kebiasaan membaca. Untuk memastikan buku dapat diakses seluruh masyarakat
Indonesia, saat ini DPR dan Pemerintah sedang membahas Rancangan Undang-
Undang tentang Sistem Perbukuan yang akan mengatur tata kelola perbukuan secara
menyeluruh mulai dari penulisan naskah, pencetakan, penerbitan, pendistribusian,
penggunaan, hingga pengadaan buku. Akan tetapi, ketersediaan buku saja tidak cukup
untuk memastikan budaya membaca. Pemerintah perlu mengembangkan program-
program pendidikan yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan pendidikan
untuk menumbuhkan kebiasaan membaca sejak dini di sekolah, rumah, dan lingkungan
masyarakat dengan mengaplikasikan prinsip-prinsip psikologi pembelajaran.
Pendahuluan
Anak-anak Indonesia memiliki minat
baca yang sangat kurang dibandingkan
negara lain. Hasil Studi “Most littered
Nation in the World” yang dilakukan oleh
Central Connecticut State University, Maret
2016, menunjukkan peringkat Indonesia
nomor 60 dari 61 negara soal minat
membaca. Meskipun Data IKAPI (Ikatan
Penerbit Indonesia) 2015, menyatakan
93,4% orang Indonesia melek huruf, namun
hanya ada 30.000 buku yang diterbitkan
setiap tahun, yang dirasa tidak cukup untuk
mengembangkan kemampuan literasi
masyarakat. Rendahnya kemampuan literasi
akan membuat rendahnya daya saing bangsa
dalam persaingan global.
Rendahnya daya saing bangsa dapat
diukur dari tingkat pendidikan seorang
anak. Dalam penelitian yang dirilis
United Nations Development Programme
(UNDP), tingkat pendidikan berdasarkan
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di
Indonesia hanya 14,6 persen. Jauh lebih
rendah daripada Malaysia yang mencapai
28 persen dan Singapura yang mencapai 33
persen. Oleh karena itu, dalam Konferensi
Anak Indonesia yang diselenggarakan
pada 13 November 2016 lalu, 33 anak
dari seluruh Indonesia diundang untuk
menularkan virus membaca sejak dini
kepada teman maupun masyarakat di
lingkungan sekitarnya.
*) Peneliti Muda Psikolog pada Bidang Kesejahteraan Sosial, Pusat Penelitian, Badan Keahlian DPR RI.
Email: elga.andina@dpr.go.id