TEORI KULTIVASI Teori kultivasi dalam media lebih menekankan bagaimana dampak yang dicapai dari seseorang ketika mengkonsumsi media. Hal ini didukung dari pernyataan Morrisan (2013: 519) bahwa teori kultivasi adalah teori yang memperkirakan dan menjelaskan dalam pembentukan persepsi, pengertian dan kepercayaan mengenai dunia sebagai hasil dari mengonsumsi media dalam jangka panjang. Jadi, dalam teori kultivasi ini kebanyakan dari apa yang kita ketahui atau kita pikir, sebenarnya tidak kita alami sendiri, melainkan dengan adanya cerita-cerita yang kita dapat dari media. Gebner dalam West (2008: 85-88) menyatakan bahwa teori kultivasi memiliki tiga asumsi dasar, yaitu: 1. Secara esensial dan fundamental televisi berbeda dengan media yang lain. Asumsi ini menunjukkan bahwa spesifikasi keunikan dari televisi yaitu kelebihan dari televisi menjadikannya istimewa, seperti televisi tidak memerlukan sederetan huruf-huruf seperti halnya media cetak lainnya. Televisi bersifat audio dan visual yang dapat dilihat gambar dan suaranya, televisi tidak memerlukan mobitas atau memutar tayangan yang disenangi dan karena aksebilitas dan avaibilitasnya untuk setiap orang membuat televisi menjadi pusat kebudayaan masyarakat kita. 2. Televisi membentuk cara kita berfikir dan berhubungan. Asumsi ini masih berkaitan dengan pengaruh tayangan televisi, pada dasarnya televisi tidak membujuk kita untuk benar-benar meyakini apa yang kita lihat di televisi. Berdasarkan asumsi ini teori kultivasi mensuplay alternative berfikir tentang tayangan kekerasan di televisi. 3. Televisi hanya memberi sedikit dampak. Asumsi yang terakhir ini mungkin agak berbeda dengan asumsi dari teori kultivasi, namun Gebner memberikan analogi ice age yang menganggap bahwa televisi tidak harus mempunyai dampak tunggal saja akan tetapi mempengaruhi penontonnya melalui dampak kecil yang tetap konstan. Konsumen media massa memahami realitas melalui perantara media massa sehingga realitas yang diterima oleh masyarakat adalah realitas media bukan realitas yang mereka alami sendiri. Hal ini didukung dengan pemikiran Gebner dalam (Morissan, 2013: 519) yang menyatakan bahwa media masaa, khususnya televisi, menyebabkan munculnya suatu kepercayaan tertentu mengenai realitas yang dimiliki bersama oleh konsumen media massa. 1