57 Pengukuran Performansi Supply Chain Dengan Pendekatan Supply Chain Operation Reference (SCOR) dan Analytical Hierarchy Process (AHP) Studi Kasus : PT. Indofarma Global Medika Ayu Chairunisa Luthfiana, Yandra Rahadian Perdana Teknik Industri UIN Sunan Kalijaga Abstrak Kinerja merupakan salah satu aspek yang dapat diukur dalam Supply Chain Management (SCM). Pengukuran kinerja dilakukan dalam rangka untuk melakukan perbaikan yang berkelanjutan dalam suatu rantai pasokan. Pada Tugas Akhir ini dilakukan pengukuran performa yang dilakukan dengan metode Supply Chain Operation Reference (SCOR) dengan Analytichal Hierarchy Processs (AHP). Metode SCOR dalam penelitian digunakan untuk mendefinisikan metrik-metrik yang disesuaikan dengan kondisi perusahaan. Metrik-metrik ini terdefinisikan dalam tiga level dimana selanjutnya metrik akan diolah guna mendapatkan nilai kinerja. Perhitungan metrik akan dilakukan pada level 1 hingga 3. Setelah didapat nilai kinerja selanjutnya akan dilakukan benchmark. AHP akan digunakan untuk melihat performance attributes mana yang dipentingkan oleh perusahaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui berapa nilai kinerja Supply Chain di PT. Indofarma Global Medika serta mengetahui performance attribute mana yang paling dipentingkan oleh PT.Indofarma Global Medika. Hasil penelitian didapati nilai pengukuran performa PT.IGM pada level satu : perfect order fulfilement 100%, order fulfillment cycle time 2 hari, deliver cycle time 30 hari, supply chain flexibility and adaptability 72% dan cash to cash cycle time 30 hari. Keywords : Performa, SCOR, benchmark, AHP. I. Pendahuluan Latar Belakang Ukuran kinerja yang diunakan dalam manajemen tradisional adalah ukuran keuangan (Beatham et al, 2004). Kinerja lain, seperti peningkatan kepercayaan customer terhadap layanan jasa perusahaan, peningkatan kompetensi dan komitmen personel, kedekatan hubungan kemitraan perusahaan dengan pemasok, dan peningkatan produktivitas dan cost effectiveness proses bisnis yang digunakan untuk melayani customer, diabaikan oleh manajemen karena sulit pengukurannya (Mulyadi dan Setyawan,2001).