ASPEK RITUAL DAN MAKNANYA DALAM PERINGATAN KASADA PADA MASYARAKAT TENGGER JAWA TIMUR Tjitjik Sriwardhani * Abstrak Penyelenggaraan upacara tradisional sebagai bagian dari kebudayaan, kelestarian hidupnya ditentukan oleh fungsinya bagi masyarakat pendukungnya. Salah satu fungsi sosialnya yakni sebagai penguat norma serta nilai budaya, sehingga dapat dijadikan untuk menentukan sikap dan tingkah laku pendukungnya. Di Tengger hampir tidak ada hari tanpa upacara tradisi, yang diikuti seluruh masyarakat termasuk yang bukan pemeluk agama Hindu, salah satunya adalah upacara Kasada. Upacara Kasada dilaksanakan setiap tanggal 14 atau bulan purnama mangsa Ashada, dalam acara ngelabuh di kawah gunung Bromo, oleh dukun tertinggi, yang diikuti seluruh dukun bawahannya, serta masyarakat pendukungnya. Dalam upacara ini setiap desa diwajibkan membuat 2 ongkek, yang terbuat dan terdiri dari bunga kumitir, bunga tonolayu, bunga waluh, kentang, kobis, kacang-kacangan, daun pakis, daun beringin, daun telatok, daun tebu, jantung pisang, buah pare, dan buah pisang, yang selesai dibuat sekitar pukul 16.00. Pukul 19.00 dibawa ke rumah carik oleh wong sepuh, selanjutnya di-pelaspas dukun. Selanjutnya salah satu ongkek dibawa ke poten di tengah segara wedhi sekitar pukul 01.00 untuk upacara mulunan, sebagai ujian calon dukun. Selesai pelantikan dukun baru, saatnya mempersembahkan sesaji kehadirat Hyang Maha Agung, jika waktu telah mencapai putih wetan maka berakhir pula puncak acara tradisional Kasada tersebut. Kata kunci: acara ritual, Kasada, tradisional, masyarakat Tengger Pendahuluan Kebudayaan merupakan milik manusia, di dalamnya mengandung norma-norma, tatanan nilai atau nilai-nilai yang dihayati oleh manusia atau masyarakat pendukungnya. Penghayatan terhadap kebudayaan dapat dilakukan melalui proses sosialisasi. Dalam proses sosialisasi ini, manusia sebagai makhluk individu mulai dari kecil hingga tua belajar pola-pola tindakan dalam hubungan pergaulan dengan individu lain, di sekelilingnya yang mempunyai beraneka ragam peranan sosial yang ada dalam kehidupan sehari-hari (Koentjaraningrat 1980). Demikian halnya dalam masyarakat yang sudah maju, norma-norma dan nilai-nilai kehidupan dipelajari melalui jalur pendidikan, baik secara formal maupun nonformal, sedangkan dalam masyarakat yang masih tradisional terdapat sarana sosialisasi yang disebut dengan upacara tradisional, yaitu merupakan kegiatan sosial yang melibatkan warga masyarakat dalam usaha mencapai tujuan keselamatan bersama (Soepanto 1992:5). Penyelenggaraan upacara tradisional merupakan bagian integral dari kebudayaan masyarakat pendukungnya, dan kelestariaan hidupnya dimungkinkan oleh fungsinya bagi masyarakat pendukungnya, serta sangat penting bagi pembinaan sosial budaya masyarakat yang bersangkutan. Hal ini disebabkan salah satu fungsi sosial dari upacara tradisional adalah sebagai penguat norma- * Penulis adalah dosen Seni Rupa Universitas Negeri Malang, sekarang sedang menyelesaikan program S2