JRPM, 2016, 1(2), 117-131 JURNAL REVIEW PEMBELAJARAN MATEMATIKA http://jrpm.uinsby.ac.id Alamat Korespondensi ©2016 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Email: epi.balingga@gmail.com e-ISSN 2503 1384 ANALISIS KEMAMPUAN REVERSIBILITAS SISWA MTS KELAS VII DALAM MENYUSUN PERSAMAAN LINIER Epi Balingga 1 , Rully Charitas Indra Prahmana 1,2 , Novi Murniati 1 1 STKIP Surya, Jl. Scientia Boulevard U/7, Tangerang - 15813 2 Universitas Ahmad Dahlan, Jl. Pramuka Kampus 2 Unit B Kav 5, Yogyakarta - 55161 Abstract This study aims to determine the reversibility ability of the seventh-grade students in making the linear equations. This ability is known after all students complete ten questions given and some students selected to be interviewed. Instrument test findings, in the form of 10 questions reversibility capability that has valid and reliable. The subjects were 29 students of class VIII 1 in MTS Negeri Pagedangan in the academic year 2015/2016. Interviews conducted to see student's ability to create a linear equation.As a result, most of the students have had the reversibility ability and the biggest difficulties of students in making similarity equation when its variable in the middle of the equation. Keywords: Reversibility ability; Descriptive research; Linear equation PENDAHULUAN Penelitian ini dilakukan berdasarkan ide Piaget tentang kemampuan reversibilitas, bahwa kemampuan reversibilitas sudah terbentuk pada siswa usia 7-12 tahun (Hidayah, 2012). Reversibilitas merupakan suatu kemampuan tentang cara berpikir konsep berkebalikan (Fatah, 2013). Sebagai contoh, siswa mampu mengerjakan soal ͵+͹= ͳͲ dan siswa juga paham kebalikannya, yaitu ͳͲ − ͵ = ͹. Selain itu, siswa juga mampu menyelesaikan soal ʹ×Ͷ=ͺ, begitu juga kebalikannya ͺ∶ʹ=Ͷ. Sehingga, dapat dikatakan bahwa kemampuan berpikir reversibilitas adalah kemampuan berpikir atau melakukan operasi-operasi sebagai kebalikan dari cara kerja semula. Piaget dan Bruner menyatakan bahwa reversibilitas ini merupakan sifat esensial dalam sistem kognisi (Widiana, 2012). Dengan demikian siswa harus memilikinya agar dapat memahami konsep-konsep matematika, seperti pada konsep pembelajaran geometri yang mengharuskan siswa berpikir dari konkrit ke abstrak maupun sebaliknya (Kolnel, Prahmana, & Arifin, 2015) dan persamaan linier satu variabel yang mengharuskan siswa berpikir apakah persamaan tersebut senilai atau tidak (Balingga, 2016). Selain itu, kemampuan berpikir reversibilitas diperlukan untuk membentuk kemampuan berlogika seseorang (Cook & Cook, 2005). Salah satu cara untuk melihat kemampuan reversibilitas siswa adalah dengan