139 Sifat Antirayap Ekstrak Kulit Bawang merah (Allium cepa L.) (Antitermites Properties of Onion Shell Extract) Margaretha Uliartha Sari 1 , Rudi Hartono 2 , Luthfi Hakim 2 Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Jl. Tri Dharma Ujung No. 1 Kampus USU Medan 20155 Email: margareth_galz@yahoo.com Abstract The aims of these researchs were to found the extract content of Allium cepa L., to evaluated weight lost of paper disc, to evaluated the toxicity level of Allium cepa L. extracts based on mortality rates and to evaluated feeding rate value. Research was done by extracting a sample with methanol then partitioning with n-Hexane. Extract with concentration of 2%, 4%, and 6% were used to test the toxicity of extract for Coptotermes curvignathus termites. The results showed extract content of Allium cepa L. was 16,62%. Termite mortality rate was 100% with concentration 2% and 4% on day 7 th while the concentration of 6% on day 5 th . So extract with the large concentration had higher mortality of termite than the lower. The weight lost of paper disc was around 3,72%–11,04% and feeding rate of termite was around 0,25 mg–0,73 mg. Keywords: extract of Allium cepa L., termite mortality, weight lost percentage, C. curvignathus PENDAHULUAN Masalah serangan rayap pada bangunan gedung diperkirakan paling tinggi intensitasnya. Hal ini diperkuat Nandika, dkk., (2003) yang menyatakan bahwa rayap tanah merupakan perusak kayu bangunan yang paling banyak menyebabkan kerugian. Rata-rata persentase intensitas kerusakan pada bangunan gedung akibat serangan rayap mencapai 70% dan menimbulkan kerugian ekonomi yang besar. Upaya pengendalian telah dilakukan dengan berbagai cara, antara lain secara kimiawi dan secara hayati. Pengendalian secara kimiawi yaitu usaha pengendalian dengan menggunakan bahan kimia (insektisida), penggunaan pestisida kimia di Indonesia telah memusnahkan 55% jenis hama dan 72 % agen pengendali hayati, misalnya dengan menggunakan insektisida heptachlor, chlordane dan HCS (Natawiria, 1973). Alternatif lain yakni secara hayati dengan memanfaatkan bahan-bahan alamiah sebagai material dasar termisida. Beberapa penelitian yang telah dilakukan diantaranya ekstrak kayu Sonokeling dan Nyatoh (Suparjana, 2000), ekstrak kayu Tanjung dan kayu Sawo kecik (Anisah, 2001), resin damar mata kucing (Sari et al. 2004), dan ekstrak kulit Pucung (Sari dan Hadikusumo, 2004). Bahan yang berasal dari tumbuhan dijamin aman bagi lingkungan karena cepat terurai di tanah dan tidak membahayakan yang bukan sasaran (Sastrodihardjo, 1999). Walau sudah banyak pemanfaatan bahan aktif tumbuhan, perlu mengeksplorasi tumbuhan lain yang dapat digunakan sebagai bahan antirayap seperti kulit bawang merah, karena kulit bawang merah mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, polifenol, seskuiterpenoid, monoterpenoid, steroid, triterpenoid serta kuinon (Soebagio, 2007) dan mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, glikosida, antrakuinon, dan triterpenoid (Manullang, 2010). Diduga senyawa- senyawa tersebut dapat digunakan sebagai biotermitisida. Berdasarkan hal tersebut, maka dilakukan penelitian ‘Sifat Antirayap Ekstrak Kulit Bawang merah’. Penelitian ini bertujuan menentukan kadar ekstrak kulit bawang merah, mengevaluasi tingkat ketoksikan ekstrak kulit bawang merah berdasarkan nilai mortalitas rayap, mengetahui persentase penurunan berat contoh uji, dan mengevaluasi tingkat ketoksikan ekstrak kulit bawang merah berdasarkan nilai tingkat konsumsi rayap. BAHAN DAN METODE Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kimia Bahan Alam, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dan di Laboratorium Teknologi Hasil Hutan,