Prosesi Pemasangan Tiang Alif dan Kubbah di Negeri Hualoy, Provinsi Maluku *** Tiang Ars Dikafani, Pemasangan Diawali Dengan Adzan Empat Penjuru *** Catatan: Ismail Hehanussa SUARA seruling Tawakal Lussy menggema malam yang sunyi. Menyalami dentupan tifa. Tifa rebana yang dipukul oleh jari-jari piawai para petua di negeri Hualoy. Mereka duduk berbentuk lingkaran. Masing-masing memainkan perannya. Tawakal Lussy meniup suling mengawali bunyian tifa rebana. "Tek-tek", suara salam 12 tifa rebana. Suara suling kembali menggema malam, memanggil semua orang. Tenda berukuran 20x25 meter mulai sesak penuh. Tak cukup dari 10 menit, warga bersorak dan berlarian memenuhi isi tenda biru dan orange. Tenda yang dipasang di depan halaman Mushallah Nurul Mubin, Negeri Hualoy, Kecamatan Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB). Waktu menunjukkan Pukul 20.30 WIT. Biasanya warga telah rehat. Berbeda pada Sabtu, 4 Februari 2017 malam kemarin. Warga masih ramai. Tepat di Jalan Lintas Seram, Kecamatan Amalatu, yang menghubungkan lalulintas arah, Waipirit- Masohi. Keramaian dinikmati warga, seperti Hari Raya. Para ibu-ibu sibuk menyiapkan makanan. Ada yang memotong sayur dan membersihkan rempah-rempah masak. Ada pula yang ngerumpi, sembari membersihkan alat dapur. Gurauan mengiring waktu malam, dibalut panasnya api 'tungku' penanak makanan. Seorang ibu lincah mengaduk sayur daun singkong yang sedang dimasak. Udara malam menjadi sahabat mereka, yang wajahnya penuh suka dan senang. Bukan untuk acara pernikahan, bukan pula untuk perayaan hari-hari besar keagamaan. Tapi, faktanya serasa demikian. Mereka semua bersuka dan bergembira ria. Waktu menunjuk Pukul 22.00 WIT. Dari jarak kurang lebih 50 meter, masih di halaman Mushallah, terdengar lembut bunyi suling Tawakal Lussy, bersama dentupan 12 tifa rebana rekan-rekannya. Sorak-sorak suara menghentak malam. Membisik kisah pembangunan Mushallah Nurul Mubin, pada tanggal, 9 Februari 1990 silam. Tahun yang tidak boleh diingat oleh siapapun anak cucuk Negeri Hualoy. Dari itu, masyarakat Negeri Hualoy kembali bangkit bersama membangun negeri. Yang dirantau kembali dekat. Merangkul tangan, dan bahu-membahu. Menyatukan sap-sap shalat dan para tukang yang sempah retak. Membangun Negeri yang menyimpan tapak kaki 99 raja. Mushallah Nurul Mubin, yang dibangun pada dua dasawarsa lalu menjadi saksi. Saksi keretakan keluarga yang 'Alhamdulillah,' kembali membaur dalam kebersamaan. Memanggil pulang bersama para tukang yang sempat saling menjauh. Mereka disatukan lewat acara yang penuh khidmat. Para tukang kembali dan saling merangkul. Tukang dari masing-masing mata rumah di Negeri Hualoy. Tukang Tubaka, Tukang Lussy dan Tukang Hehanussa. Juga hadir Tukang Manuputty dari negeri tetangga. Semua bersatu untuk pemasangan Tiang Alif dan Kubah Mushallah Nurul Mubin. Bersatu mengembalikan dan mengangkat kejayaan negeri, yang sempat terpuruk. Memanggil seluruh isi alam dan penghuni negeri. Dari Timur hingga Barat. Dari Utara ke Selatan. Dari lautan bebas ke pantai Oko menuju Huntura, Hatai, Maruru hingga ke Serambi Islam. Membawa Rahmat sekalian Alam memberkati Negeri Hualoy. Tangan yang dulunya sempat tersenggol telah menyatu. Tak ada lagi kelise. Perbedaan yang dirasa selama lebih dari dua dasarwarsa terkubur dalam. Mengembalikan kerajaan Timur yang terus bangkit dan berdiri kokoh di bawah Benteng Masahatu. Benteng Tua yang menyimpan tapak tangan 99 raja negeri penguasa. "Hup-hap, Huuu," tanda akhir ketukan tifa rebana. "Kopi-kopi," sahut seseorang di balik keramaian. Tak lama, kopi di dalam poci dihantarkan menuju meja, yang berdekatan dengan grup rebana. Sinar bulan separuh di ufuk Barat puncak Masahatu mulai memudar. Sesekali kendaraan roda dua dan empat dari arah Kairatu melintas menuju arah Kota Masohi, Kabupaten Maluku Tengah, dan sebaliknya. Kecepatan kendaran melambat, dan menengok keramaian warga. Meski waktu telah menunjuk Pukul 00.00 WIT, keramaian masih terasa. 20 menit berlalu sudah. Pengunjung tampak diam. Sesaat terdengar suara jangkrik memecah malam. Jauh dari kota. Negeri tanpa polusi kendaraan dan pubrik. Suara seruling Tawakal Lussy nun lembut kembali mengudara. Menyambut