Jurnal Pendidikan Biologi, Vol. 5, No. 3, Edisi Agustus 2016 135 Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Materi Pencemaran Lingkungan di SMA Swasta PAB 8 Saentis Baby Arlita Lubis * , Binari Manurung, Fauziyah Harahap Program Studi Pendidikan Biologi, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Medan, Jl. Willem Iskandar Pasar V Medan Estate, Deli Serdang, Sumatera Utara, Indonesia *E-email: babyarlitalubis@gmail.com Abstract: This study aims to determine the effect of inquiry based learning modelon students’learning outcome of the environmental pollutiontopic at SMA Swasta PAB 8 Saentis. The research method used is quasi experimentwith sample as much as 3 classes, those are takenby using the technic of cluster random sampling.Guided inquiry based learning model is taught in class X 2 , modified free inquiry based learning modelis taughtin classX 5 , and traditional based learning model is taughtin class X 3 . The instrument is used in this study islearning outcome test in form multiple choice. The techniqueof data analysis used in this study isanalysis covariatbyusingthe program of SPSS 21.0 for Windows. The study result showed that there was effect ofinquiry based learning modelon students’ learning outcome (F=6.58 ; P=0.002). Students’ learning outcome that were taught by guided inquiry based learning model(73.36±11.443) was highestthanmodified free inquiry based learning model(67.27±12.050) was higherthan traditional based learning model (64.00±13.561). Key Words: Guided Inquiry, Modified Free Inquiry, Traditional, Learning Outcome, Environmental Pollution. 1. PENDAHULUAN Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan menurut Sanjaya (2011) adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam pembelajaran, anak kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran didalam kelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghapal informasi, otak anak terus-menerus dibiasakan untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian Program for International Student Assessment (PISA) 2012 yang berfokus pada literasi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) mengukuhkan peserta didik Indonesia menempati posisi ke-64 dari 65 negara peserta dengan skor rata-rata 382 pada aspek kemampuan peserta didik dalam mengidentifikasi masalah dalam memahami fakta-fakta alam dan lingkungan serta menggunakannya untuk memahami fenomena dan perubahan pada lingkungan hidup (Kemdikbud, 2014). Permasalahan yang sama juga ditemukan di SMA Swasta PAB 8 Saentis. Berdasarkan hasil observasi awal dan komunikasi langsung dengan guru bidang studi biologi diketahui bahwa siswa masih memiliki kemampuan berpikir kritis rendah yang ditunjukkan dengan minimnya aktivitas bertanya, menjawab, menanggapi dan mengemukakan pendapat, menalar, belum terbiasa menyelesaikan suatu masalah dengan baik, dan mencoba mengambil suatu kesimpulan masih sangat kurang dalam kegiatan pembelajaran di kelas.Hal ini berdampak pada pencapaian hasil belajar biologi banyak yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) rata-rata yang ditetapkan sekolah yaitu 75. Berdasarkan data Daftar Kumpulan Nilai (DKN) Biologi siswa kelas X SMA Swasta PAB 8 Saentis TA 2011/2012 hingga TA 2013/2014 bahwa hasil belajar biologi siswa masih rendah dan belum mencapai KKM. Nilai rata-rata siswa 59. Sedangkan kriteria ketuntasan minimal adalah 75. Pembelajaran biologi merupakan suatu proses penemuan dan menekankan pada