Konseling Islami menggunakan Teknik Puasa sebagai Kontrol Diri pada Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto Nur Indah Fauziyah 1 , Bonita Sandika Budi 2 Program Studi Psikologi UniversitasMuhammadiyahPurwokerto, Jl. Raya Dukuhwaluh, (0281)-636751 nindah 18 @ gmail . com 1 , bonita sandika @ yahoo . com 2 ABSTRAK Puasa merupakan bentuk ibadah kepada Allah SWT. Puasa dalam bahasa memiliki arti menahan. Puasa dilakukan dari terbitnya matahari hingga terbenamnya matahari dan di dahului oleh niat terlebih dahulu. Puasa bukan hanya menahan haus dan dahaga saja, akan tetapi juga menahan nafsu diri. Sehingga puasa membuat seseorang mengontrol dirinya dari segala jenis nafsu, yang membuat seseorang lebih bersyukur akan nikmat yang Allah SWT berikan. Dengan bimbingan konseling menggunakan teknik puasa, diharapkan mahasiswa bisa lebih bersyukur dengan meningkatnya kontrol diri, serta bisa meningkatkan prestasi dan kuaitas hidupnya. Kata Kunci : Konseling Islam, Puasa, Kontrol Diri ABSTRACT Fasting is a form of worship to God. Fasting in the language has a meaning withstand. Fasting is done from sunrise to sunset and is preceded by intention beforehand. Fasting is not only withstand thirst and thirst alone, but also the abstinence themselves. So that fasting makes man to control himself from any kind of passion, that make a person more grateful for the blessings that Allah gave. By using the technique of fasting counseling, students are expected to be more grateful with increasing self-control, and can improve performance and kuaitas life. Keywords: Counseling Islam, fasting, Self-Control Pendahuluan Mahasiswa merupakan bagian dari masa remaja. Dimana masa remaja merupakan masa dimana individu memiliki tingkat emosi yang tidak stabil. Remaja disebut juga adolescenia atau dalam bahasa latinnya adalah kematangan mental, emosional, sosial dan fisik (Hurlock, 2004). Pada masa remaja ini atau adolence, remaja membutuhkan pengakuan dari lingkungan sekitarnya. Selain itu remaja juga masih dalam tahap pencarian jati diri yang membuat emosinya tidak stabil. Mahasiswa dikatakan memiliki self-control tinggi apabila mahasiswa tersebut tidak “meedakkan” emosinya terhadap orang lain, akan tetapi menunggu saat dan tempat yang lebih tepat untuk meluapkan emosinya dengan cara yang dapat diterima. Akan tetapi di zaman yang modern sekarang ini, banyak mahasiswa yang memiliki Self-control rendah. Tidak sedikit dari mahasiswa yang menggunakan media sosial sebagai alat untuk meluapkan emosinya baik dari segi positif maupun negatif. Tidak sedikit mahasiswa yang malah menggunakan media sosial sebagai wadah untuk menghujat atau menyindir satu sama lain. Oleh karena itu, konseling islami menggunakan teknik puasa diharapkan bisa meningkatkan self- control pada mahasiswa, karena puasa merupakan madrasah moralitas dan dapat dijadikan sarana latihan untuk menemba berbagai macam sifat terpuji. Puasa adalah jihad melawan hawa nafsu menangkal godaan-godaan dan rayuan-rayuan setan yang terkadang terlintas dalamseseorang bersikap sabar pikiran. Puasa bisa membiasakan sesorang bersikap sabar terhadap hal-hal yang diharamkan, penderitaan, dan kesulitan yang kadangkala muncul dihadapannya. (Al-Zuhayly, 2005).