1 Ditebus dengan Darah yang Mahal: Soteriologi Salib dari Perspektif Ritual Kurban Evans-Pritchard dan Rene Girard Dr. Pdt. Ebenhaizer Nuban Timo Faculty of Theology, Satya Wacana Christian University, Salatiga - Indonesia Email: ebenhaizer.timo@staff.uksw.edu ; ebenhur65@yahoo.co.id Dimuat dalam Feestchrijft prof. Nanare, Halmahera. Abstrak Artikel ini berisi upaya penulis untuk menjawab tiga pertanyaan: Pertama, mengapa kematian di salib merupakan jalan yang harus ditempuh Yesus bagi pendamaian dan penebusan manusia dari dosa? Kedua, mengapa penebusan atas dosa membutuhkan korban berdarah? Ketiga, Kalau korban berdarah adalah keharusan, bukankah itu berarti bahwa Allah menuntut darah dan adalah haus darah? Penelitian bersifat kualitatif melalui studi kepustakaan. Teori piacular sacrifice dari Evans-Pritchard dan Rene Girard berperan sebagai pisau bedah sementara pengalaman orang- orang yang terbebas dari cengkraman Iblis menjadi bingkai untuk memperdalam pengertian. Ada tiga jawaban yang diperoleh. Pertama, salib bermakna hinaan dan kutukan. Kontradiksi salib berikut ini: Yesus seorang Yahudi tapi dihukuman mati dengan cara penyaliban Romawi, pengadilan sandiwara tanpa menghadirkan saksi, eksekusi tanpa ditemui kesalahan, mengandung pesan bahwa kematian Yesus adalah bersifat pengganti, bermakna penebusan dan berdimensi mondial. Kedua, darah adalah nyawa (Ul. 12:23) dan nyawa berdiam dalam darah (Im. 17:11). Dalam pemahaman animistis darah adalah daya hidup. Makan darah sama artinya dengan menambahkan daya hidup seseorang. Darah juga diyakini berkhasiat membersihkan dosa dan melindungi pendosa. Iblis membutuhkan darah untuk tetap hidup tetapi tidak kuat minum darah Yesus karena darah Yesus ilahi, bebas dosa. Ketiga, dalam karya pendamaian di salib, bukan manusia yang memberikan kurban kepada Allah, melainkan Allah yang memberikan kurban kepada manusia dan atas nama manusia. Kalau begitu jelas Allah bukan si penuntut darah, bukan juga haus darah. Keyword: Soteriologi, Salib, Pendamaian, Kurban, Darah dan Yesus Kristus. Prakata Saya diminta panitia pesta buku Gereja Masehi Injili Halmahera untuk menyiapkan sebuah tulisan sebagai penghormatan dan kenangan kepada Prof. Dr. Ir. J.L. Nanare, M.Sc. Saya tidak mengenal secara pribadi sang jubilaris karena itu saya mengalami kesulitan untuk menentukan tema bagi tulisan yang saya buatkan baginyas. Kalaua saya memilih judul di atas sebagai bahan diskursus itu didasarkan atas dua alasan. Pertama, saya menulis teks ini ketika gereja seluruh dunia sedang merayakan masa pra-paskah atau yang di gereja saya (Gereja