PEREBUTAN PULAU DAN LAUT: PORTUGIS, BELANDA DAN KEKUATAN PRIBUMI DI LAUT SAWU ABAD XVII-XIX 1 Oleh: Didik Pradjoko 2 Pendahuluan Perkembangan dinamika politik dan ekonomi di Nusantara sejak abad ke-16 Masehi diwarnai oleh penetrasi bangsa Barat, akibat kedatangan bangsa Portugis pada awal abad ke-16, kemudian disusul oleh kedatangan armada Belanda dan Inggris yang datang pada akhir abad ke-16. Kedatangan armada dagang bangsa Barat ini telah membuat perubahan peta politik dan ekonomi di Nusantara, ketika dengan alasan untuk menguasai perdagangan rempah-rempah, mereka merebut pelabuhan-pelabuhan penting di Nusantara sebagai batu loncatan untuk menguasai perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Penguasaan Bandar Malaka oleh Portugis tahun 1511, kemudian menyusul Ambon, sementara armada dagang Belanda yang kemudian mendirikan Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) atau Perhimpunan Dagang Hindia Timur pada tahun 1602, mulai merebut Ambon dari tangan Portugis tahun 1605, merebut Bandar Jayakarta di muara Sungai Ciliwung pada tahun 1619 dan mendirikan kota Batavia di atas reruntuhan kota Jayakarta. Proses perebutan hegemoni ini tidak berhenti bahkan sampai abad ke- 19, sebagai dampak dari perebutan hegemoni politik dan ekonomi yang dilakukan oleh bangsa Barat tersebut berakibat munculnya resistensi atau perlawanan dari penguasa-penguasa pribumi yang ada di Nusantara. Kekuatan kerajaan Mataram Islam di Jawa Tengah, Kesultanan Gowa di 1 Makalah dipresentasikan Konferensi Nasional Sejarah VIII pada tanggal 14-16 Nopember 2006 di Jakarta, diselenggarakan oleh Direktorat Nilai Sejarah , Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. 2 Staf Pengajar pada Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia 1